Arsip untuk November, 2007

Kenapa Uang Jadi Tuhanmu?

Duh celaka, kenapa  anda tidak malu menjadikan uang sebagai Tuhan dan hasrat anda? Kenapa semua itu membuatmu alpa segalanya?
Sungguh, jadikan tokomu dan hartamu itu untuk kepentingan kehidupan keluargamu sesuai dengan aturan syariat, sedangkan hatimu penuh pasrah kepada Allah azza wa-Jalla. Raihlah rizki, dan sebenarnya rizki mereka berasal dari Allah, bukan dari daganganmu dan hartamu.

Hanya saja rizkimu dan rizki mereka diserahkan oleh Allah kepada anda, untuk menghidupi keluargamu, dan agar anda merasa cukup bersama Allah Ta’ala, yang mencukupi anda menurut kehendakNya dan bagaimana kehendak itu berlaku dalam diri anda.
Lalu dikatakan pada hatimu, ini untukmu dan ini untuk keluargamu.
Namun bagaimana anda bisa sampai pada wacana seperti itu jika anda tertutup, hatimu tertolak, hatimu tertutup oleh dunia dan tak pernah kenyang puas dengan dunia, samai menutup hatimu, menghalangi masuk kehadiratNya.

Cukuplah anda mengingatNya, bertobatlah atas pengaruh aktivitasmu, atas keburukan adabmu di hadapanNya. Perbanyaklah menangis atas apa yang muncul dari dirimu. Bagikan hartamu pada orang-orang miskin, jangan bakhil! Sebab hartamu tidak lama lagi berpisah denganmu. Orang beriman yang meyakini dampak dari dunia dan akhirat tidak akan pernah bakhil.

Sebuah riwayat dari Nabi Isa as, beliau berkata kepada Iblis,
“Siapa yang paling kamu cintai?”
Iblis menjawab, “Orang bakhil.”
Nabi Isa bertanya lagi, “Siapa yang paling kamu benci?”
“Orang fasiq yang dermawan…” Jawab Iblis “Kenapa demikian?”
“Sebab aku berharap agar si bakhil mu’min itu dengan kebakhilannya bisa terjerumus ke dalam maksiat, dan aku khawatir sekali jika si fasik yang dermawan itu malah terhapus dosa-dosanya akibat kedermawanannya.” Jawab Iblis.

Apakah anda sibuk memburu dunia untuk dunia? Syariat itu digelar agar seseorang berusaha dengan dunia itu untuk bekal ibadahnya pada allah Azza wa-Jalla. Sedangkan anda? Berburu dunia untuk maksiat, anda tinggalkan sholat, anda tinggalkan perbuatan baik, anda tidak mengeluarkan zakat, maka anda berada dalam kemaksiatan, bukan dalam ketaatan. Maka aktivitasmu tidak lebih dari garong di jalan. Tidak lama lagi kau mati. Orag yang beriman gembira sedangkan yang kafir dan munafiq tersiksa.

Rasulullah saw. Bersabda:
“Jika orang beriman mati, ia berharap, agar apa pun yang ada di dunia dan tak sekejap pun, — karena memandang apa yang dianugerahkan berupa kemuliaan dari Allah baginya.”

Manakah orang yang taubat dan konsisten dengan taubatnya? Manakah orang yang malu pada Tuhannya Azza wa-Jalla yang terus mengawasi tingkah lakunya? Manakah orang yang hati-hati pada yang diharamkan Allah Azza wa-Jalla baik dalam kesunyian dan keramaian? Manakah yang memejamkan mata kepala dan matahatinya?
Nabi SAW bersabda:
“Dua kelopak mata itu berzina, dan zinanya kedua mata adalah melihat hal-hal yang diharamkan” (Hr Bukhari)

Berapakali matamu berzina melihat hal-hal yang diharamkan dari wanita dan anak-anak? Tidakkah kau mendengar firmanNya, “
 “Dan katakanlah bagi orang-orang beriman agar memejamkan matanya…” (An-Nuur 30).

Hai orang fakir, bersabarlah atas kefakiranmu. Karena kefakiran dunia akan putus. Suatu hari Nabi saw, bersabda kepada Aisyah ra.
” Hai Aisyah tahanlah pahitnya dunia demi nikmatnya akhirat…”
Tahukah kalian siapa nama anda di tengah-tengah kaum sufi? Sang Celaka atau Sang Bahagia? Sebenarnya sudah diketahui nama anda dalam catatanNya. Tapi anda jangan menyerah dan biarkan diri atas takdirNya, yang membuat anda malah merobek syariat.
Tekunilah dan berjuanglah sesuai yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang, karena adanya hal-hal yang tidak anda ketahui dalam takdir yang mendahului.
Kaum sufi senantiasa membentang-kan karpet dunia untuk berdiri di hadapan Tuhannya dengan penuh khidmah. Ia raih dunia untuk bekal, bukan untuk dinikmati, bahkan ia berbuat untuk dunia semata karena darurat. Ia tegakkan bangunan dunia demi ibadah kepadaNya dan menjaga kelaminnya dari rekayasa syetan. Semua itu demi melaksanakan perintahNya dan mengikuti jejak Nabinya.
Seluruh kesibukan mereka dalam rangka menjalankan perintah dan mengikuti jejak Sunnah, dan semuanya dilakukan dengan semangat cita dan kekuatan zuhud dalam segala hal. Oh Tuhan, jadikanlah kami diantara kalangan mereka, dan limpahilah kami dari barokah mereka. Amin.

Komentar bertahan »

Sunyi dalam Ramai, Ramai dalam Sunyi

Jika perjalanan tafakkur kita menembus batas-batas cakrawala, menapak langit-langit hingga sidratul Muntaha, pastilah berakhir dengan keterjengahan hati kita, bahwa segalanya menuju, demi dan untuk Rabbul Izzah, Allah Ta’ala. Itulah awal perjalanan ke-Ikhlasan kita, disaat tafakkur sunyi menapakai “Inna Sholaati wa-Nususkii wa-Mahyaaya wa-Mamaatii Lillahi Robbil ‘Alamin…”(Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiiku hanyalah untuk Allah…”

Menuju Arasy kita bertemu dalam hamparan Liqo’Allah, dalam sunyi paling sunyi, karena segala hal selain Allah sirna, dan yang ada hanyalah Wajah Allah. Tetapi dalam sunyi paling sunyi, ghuyubul ghuyub itu, betapa tiada terperi,berhamparan cahaya yang meramaikan, lebih ramai dari keramaian apa pun juga, karena KemahaanNya Yang Rahman bersinggasana mengatur semesta. Seluruhnya berada dalam genggamnya yang serba sunyi senyap dalam ghuyubul ghuyub, dan ketika dilepaskannya dalam hamparan keleluasaanNya, betapa ramainya dalam taburan tasbih kepadaNya, atas Kemahasucian asma-asmaNya.

Kita baru memahamiNya ketika kembali ke dunia nyata, dengan segala keramaian peradaban, kesemrawutan manusia, tumpukan-tumpukan problema yang silih berganti antara cahaya dan kegelapan, bahkan suara-suara, rupa warna tiada tara, toh berujung pada kesunyian hati dalam sudut paling lorong, ada denyut jantung terus bersamaNya.

Bagaimana tidak? Yang nyata dalam fenomena, yang tampak oleh mata kepala, yang terdengar oleh telinga, yang teraba oleh indera, telah membawa tarikan pesona yang mealpakan kita di lembah Ghafalat, yang dibuai oleh tarian-tarian Syahawat, telah melemparkan kita di batas Hijab: Kita telah berada dalam jurang Jinabat. Dan Rumah Allah melarang orang-orang junub untuk memasukinya, kecuali telah bersuci dari Jinabat Ghafalat (kealpaan pada Allah)-nya.

Bertanyalah kepada bukit biru menjulang gagah, siapakah anda? Bertanyalah kepada gulungan-gulungan ombak di lautan, siapakah anda? Bertanyalah kepada desau angina lembut, dan bahkan badai yang menggelora, siapakah anda? Bertanyalah pada bunga tulip di pagi hari ketika mekar bersama kejora dan fajar hari, siapakah anda? Bertanyalah pada api yang membakar, dan seluruh enerji semesta, siapakah anda? Ternyata semua menjawab serentak dalam “harmoni konser pesona”: “Sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah anda kufur!”. Jawaban yang meledakkan seluruh dirinya, merobek seluruh nafsu kita, mencekam seluruh ketakutan, dan sekaligus mendendam kerinduan cinta kita.

Anda mau lari dari kenyataan? Lari dari gigitan paling pedih dari kesunyian ruhani anda? Lari dari keterlemparan diri anda akibat dosa dan kegelapan? “keinginanmu untuk lari menuju Tuhan dan hanya ingin sendiri bersamaNya, hanya ingin “Anda dan Dia”, sedangkan kenyatannya anda harus menghadapi dengan alam fikiran, logika sebab akibat, hasrat anda itu tadi hanyalah Nafsu tersembunyi dalam bilik ketololan, kemalasan, ketidakberanian, kepengecutan, dan kelelahan hati anda.

Hadapilah! Karena Allah tak pernah hilang, tak pernah ghaib, tak pernah berjarak, tak pernah bergerak atau diam, tak pernah berpenjuru atau bernuansa, tak pernah berbentuk dan berupa, tak pernah berwaktu dan ber-ruang. Tak ada alasan apa pun yang bisa menutup, menghijab, menghalangi, menirai Allah dari dirimu, apalagi sekadar untuk “Menyendiri bersamaNya” dalam hiruk pikuk dunia. Tanpa harus melepaskan tantangan zaman, perjuangan, kegairahan kehambaan, kita tak pernah terhalang sedetikpun untuk menggelayut di “PundakNya” apalagi bermesraan dalam PelukanNya.

Jika ruang sunyi di hatimu terganggu oleh buar dan suara-suara nafsu, masuklah ke dalam bilih ruhmu, karena dalam bilik ruhmu ada hamparan agung Sirrmu, dimana sunyimu menjadi sirnamu kepadaNya, bahkan tak kau sadari kau panggil-panggil NamaNya, karena kau telah berdiri di depan GerbangNya. Kelak kita bisa kembali bersamaNya, untuk melihat dunia nyata yang tampak di mata kepala, “BersamaNya aku melihat mereka,” begitu sunyi ungkapan Abu Yazid Bisthamy kita.

Inilah awal kebarangkatan kita,
menuju tetapi dituju,
memandang tetapi dipandang,
melihat tetapi dilihat,
bergerak tetapi diam fana,
berkata tetapi bisu,
memanggil tetapi dipanggil,
bersyari’at tetapi hakikat,
berhakikat tetapi syari’at,
bertangis dalam senyuman
senyum tak menahan airmata
bersunyi-sunyi tetapi ramai
beramai-ramai tetapi sunyi

Lalu kita berbondong-bondong menempuh Jalan Khalwat, menuju Gua Agung tak terperi, Hira’ hamparan hati. Agar hati lebih luas dari Arasy Ilahi, berbondong-bondong melepaskan atribut-atribut manusiawi, dan apa pun alasan dan alibi kewajaran kita, agar kita tak punya alas an lagi, untuk tidak durhaka kepadaNya, untuk tidak menghindariNya, untuk tidak berselingkuh dengan selain DiriNya, untuk tidak memproduksi bermilyar-milyar syetan setiap hari, untuk tidak menyembah ribuan berhala dalam hati.

Kita keluar dari Khalwat menuju ‘Uzlah Jiwa, lihatlah betapa sunyinya keramaian peradaban manusia, betapa senyapnya suara-suara yang berdesing atau bagaikan nyanyian tapi sunyi. Kecuali yang ramai di detak jantungmu, Allah Allah Allah, Subhanallah Walhamdulillah wa-Laailaaha Illallah Allahu Akbar, menyelimuti seluruh karamaian semesta. Sampai semesta sunyi dalam kefanaan, Allahu Akbar! Walillahil Hamd. Maha Puja-Puji bagi AbadiNya.

Deru mobil lalu lalang. Teriakan orang-orang lapar di jalanan atau di pengasingan. Desing peluru menghantar peperangan. Kerut melipat kening orang-orang di bursa saham. Murka para penguasa meneguhkan kesombongan.

Para koruptor berancang-ancang. Hukum semrawut di jalanan. Semua atas nama kepentingan diri dan golongan. Dari Jakarta ke London, Jakarta ke New York, Washingston ke tumpukan lembah debu di Palestina. Apakah ini Jakarta atau hutan liar penuh raksasa dari penjuru dunia? Oh, lihatlah bagaimana akibat orang-orang pendusta Tuhan.

Komentar bertahan »

Menjaga Konsumsi Perut

Perut manusia harus dijaga. Karena perut merupakan sumber energi badan, yang bisa menyebabkan badan sehat atau sakit. Karena itu, anda harus menjaga konsumsi perut dari segala makanan yang diharamkan, makanan syubhat (meragukan) dan makanan halal yang berlebihan. Semua ini harus diperhatikan apabila anda memiliki himmah (keinginan kuat) beribadah kepada Allah SWT.

Menjaga masalah haram dan syubhat, karena tiga alasan:

  1. Menjauhkan dari neraka jahannam.
  2. Seseorang yang mengkonsumsi makanan yang haram dan syubhat tidak mendapatkan tempat, untuk dapat dinilai bisa memenuhi realisasi lbadah, karena untuk mempraktikkan pengabdian (khidmah) kepada Allah, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan totalitas kalbu yang suci.Saya [al-Ghazaly] tegaskan, bukankah Allah SWT. melarang orang junub (berhadas besar) memasuki rumah-Nya, dan melarang orang yang berhadas menyentuh Kitab-Nya – padahal kedua orang itu dalam kondisi setelah [selesai] melakukan yang mubah? Bagaimana dengan orang yang sudah terlanjur tenggelam (munghamis) dalam kehinaan dengan objek-objek yang haram dan syubhat, dapat mengklaim bahwa dia melakukan pengabdian (khidmah) dan dzikir yang mulia kepada Allah SWT. yang sama sekali jauh dari yang mereka sangka?
  3. Orang yang memakan yang diharamkan dan yang syubhat adalah orang yang benar-benar dihalangi dari karunia Allah (al-mahrum). Walaupun dia melakukan perbuatan baik, amalnya tetap ditolak. Dia hanya memperoleh kepayahan belaka.

Kriteria yang diharamkan, apabila makanan itu milik orang lain yang dilarang oleh syara’, atau menurut dugaan kuat anda, adalah barang haram. Tetapi apabila ada sifat samar antara halal dan haram, dikategorikan syubhat (meragukan) – sisi keraguannya terletak pada apakah ia termasuk haram, yang di sisi lain la tampak seperti objek yang halal.

Adapun meninggalkan dari yang pasti haram adalah suatu keniscayaan wajib hukumnya, dan menahan diri dari yang syubhat adalah wujud dari ketakwaan dan wara’.

Ketahuilah, prinsip bahasan yang pokok dalam kitab mengenai hal ini, yakni ada 2 hal penting; pertama yang berkaitan dengan hukum syara’ dan dimensi eksoteriknya (zhahir). Kedua dimensi ketentuan (hukum) atas dasar sikap wara’  dan penerapannya.
Dalam bahasan ini, menurut syara’, tatkala  anda mengambil sebagian karunia Allah dari seseorang yang pada dasarnya menampilkan sikap kesalehan, maka hindari untuk mempertanyakan – sisi hukumnya – atau anda akan menjadi sasaran kemarahan orang itu, atau kecuali anda yakin pada sisi keharaman pada objek itu.

Adapun dari segi penerapan hukum berdasarkan sikap wara’ , hindari untuk mengambil apa pun itu  dari orang lain, sampai setelah penelitian yang menyeluruh dan mendalam, sehingga anda sampai pada keyakinan tidak ada unsur syubhat dari segi perolehannya saat itu. Jika tidak yakin, tampiklah benda itu.

Jika ada klaim yang menyatakan: dimensi wara’  bertentangan dengan dimensi syara’ dan hukum syariat. Ketahuilah -jawabnya – bahwa sikap wara’ itu terinspirasi pula dari syariat, dua sisi sebenarnya pada dasarnya saling terkait, syara’ memiliki dua peristilahan hukum: hukum [yakni mengonsumsi karunia Allah, penyayang. ] yang bersifat menunjukkan kebolehan (jawaz) dan hukum al-afdhal al-ahwath (yakni hukum keutamaan dan kehati-hatian).

Kita mengatakan suatu yang dibolehkan dengan istilah al-jaiz dalam konteks syara’ , dan istilah afdhal ahwath (prinsip hukum mengambil yang utama dengan sikap lebih hati-hati) adalah dalam konteks sikap wara’ – Dan Allah Maha Tahu.

Adapun tentang batasan menerapkan hukum berlebihan dalam mengonsumsi yang halal (fudhul al-halal): patut diketahui bahwa kategori-kategori (ahwal) yang mubah (dihalalkan) oleh syara’, pada garis besarnya, terdiri dari berbagai bagian di bawah ini.

Bagian pertama, tindakan seorang hamba yang mengonsumsi yang mubah untuk maksud-maksud membanggakan diri (mufakhiran), menumpuk sampai banyak (mukatsiran) sekaligus menerapkan perbuatan riya’, maka perbuatan ini dari segi lahiriah dimensi layak mendapatkan celaan, adapun dari segi amalan batin layak mendapat siksa neraka.Ketentuanya memang seperti itu, karena tujuannya adalah menerapkan perbuatan maksiat, siapapun yang memang berniat untuk melakukan itu, dia termasuk yang mendapatkan ancaman (wa’id).
Kedua, mengambil barang halal hanya untuk memenuhi hasrat dari egonya. – dan tidak ada tujuan lain, — ini akan menjadi alasan kuat bagi hamba untuk mendapatkan siksa, berupa penahanan dan akan dihisab kelak di akhirat.

Ketiga, mengambil barang halal dalam keadaan terdesak dia memerlukan sekadarnya untuk ibadah kepada Tuhannya.  Dia mengambil sebatas keperluannya. Tindakan ini merupakan kebajikan dan cukup etis (menerapkan adab). Dalam hal ini tidak termasuk dalam hitungan dan tidak ada unsur tercela, bahkan dia berhak atas pahala dan pujian. Wallahu a’lam.
Menjaga Konsumsi Perut
Perut manusia harus dijaga. Karena perut merupakan sumber energi badan, yang bisa menyebabkan badan sehat atau sakit. Karena itu, anda harus menjaga konsumsi perut dari segala makanan yang diharamkan, makanan syubhat (meragukan) dan makanan halal yang berlebihan. Semua ini harus diperhatikan apabila anda memiliki himmah (keinginan kuat) beribadah kepada Allah SWT.

Menjaga masalah haram dan syubhat, karena tiga alasan:

  1. Menjauhkan dari neraka jahannam.
  2. Seseorang yang mengkonsumsi makanan yang haram dan syubhat tidak mendapatkan tempat, untuk dapat dinilai bisa memenuhi realisasi lbadah, karena untuk mempraktikkan pengabdian (khidmah) kepada Allah, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan totalitas kalbu yang suci.Saya [al-Ghazaly] tegaskan, bukankah Allah SWT. melarang orang junub (berhadas besar) memasuki rumah-Nya, dan melarang orang yang berhadas menyentuh Kitab-Nya – padahal kedua orang itu dalam kondisi setelah [selesai] melakukan yang mubah? Bagaimana dengan orang yang sudah terlanjur tenggelam (munghamis) dalam kehinaan dengan objek-objek yang haram dan syubhat, dapat mengklaim bahwa dia melakukan pengabdian (khidmah) dan dzikir yang mulia kepada Allah SWT. yang sama sekali jauh dari yang mereka sangka?
  3. Orang yang memakan yang diharamkan dan yang syubhat adalah orang yang benar-benar dihalangi dari karunia Allah (al-mahrum). Walaupun dia melakukan perbuatan baik, amalnya tetap ditolak. Dia hanya memperoleh kepayahan belaka.

Kriteria yang diharamkan, apabila makanan itu milik orang lain yang dilarang oleh syara’, atau menurut dugaan kuat anda, adalah barang haram. Tetapi apabila ada sifat samar antara halal dan haram, dikategorikan syubhat (meragukan) – sisi keraguannya terletak pada apakah ia termasuk haram, yang di sisi lain la tampak seperti objek yang halal.

Adapun meninggalkan dari yang pasti haram adalah suatu keniscayaan wajib hukumnya, dan menahan diri dari yang syubhat adalah wujud dari ketakwaan dan wara’.

Ketahuilah, prinsip bahasan yang pokok dalam kitab mengenai hal ini, yakni ada 2 hal penting; pertama yang berkaitan dengan hukum syara’ dan dimensi eksoteriknya (zhahir). Kedua dimensi ketentuan (hukum) atas dasar sikap wara’  dan penerapannya.

Dalam bahasan ini, menurut syara’, tatkala  anda mengambil sebagian karunia Allah dari seseorang yang pada dasarnya menampilkan sikap kesalehan, maka hindari untuk mempertanyakan – sisi hukumnya – atau anda akan menjadi sasaran kemarahan orang itu, atau kecuali anda yakin pada sisi keharaman pada objek itu.

Adapun dari segi penerapan hukum berdasarkan sikap wara’ , hindari untuk mengambil apa pun itu  dari orang lain, sampai setelah penelitian yang menyeluruh dan mendalam, sehingga anda sampai pada keyakinan tidak ada unsur syubhat dari segi perolehannya saat itu. Jika tidak yakin, tampiklah benda itu.

Jika ada klaim yang menyatakan: dimensi wara’  bertentangan dengan dimensi syara’ dan hukum syariat. Ketahuilah -jawabnya – bahwa sikap wara’ itu terinspirasi pula dari syariat, dua sisi sebenarnya pada dasarnya saling terkait, syara’ memiliki dua peristilahan hukum: hukum [yakni mengonsumsi karunia Allah, penyayang. ] yang bersifat menunjukkan kebolehan (jawaz) dan hukum al-afdhal al-ahwath (yakni hukum keutamaan dan kehati-hatian).

Kita mengatakan suatu yang dibolehkan dengan istilah al-jaiz dalam konteks syara’ , dan istilah afdhal ahwath (prinsip hukum mengambil yang utama dengan sikap lebih hati-hati) adalah dalam konteks sikap wara’ – Dan Allah Maha Tahu.

Adapun tentang batasan menerapkan hukum berlebihan dalam mengonsumsi yang halal (fudhul al-halal): patut diketahui bahwa kategori-kategori (ahwal) yang mubah (dihalalkan) oleh syara’, pada garis besarnya, terdiri dari berbagai bagian di bawah ini.
Bagian pertama, tindakan seorang hamba yang mengonsumsi yang mubah untuk maksud-maksud membanggakan diri (mufakhiran), menumpuk sampai banyak (mukatsiran) sekaligus menerapkan perbuatan riya’, maka perbuatan ini dari segi lahiriah dimensi layak mendapatkan celaan, adapun dari segi amalan batin layak mendapat siksa neraka.Ketentuanya memang seperti itu, karena tujuannya adalah menerapkan perbuatan maksiat, siapapun yang memang berniat untuk melakukan itu, dia termasuk yang mendapatkan ancaman (wa’id).
Kedua, mengambil barang halal hanya untuk memenuhi hasrat dari egonya. – dan tidak ada tujuan lain, — ini akan menjadi alasan kuat bagi hamba untuk mendapatkan siksa, berupa penahanan dan akan dihisab kelak di akhirat.

Ketiga, mengambil barang halal dalam keadaan terdesak dia memerlukan sekadarnya untuk ibadah kepada Tuhannya.  Dia mengambil sebatas keperluannya. Tindakan ini merupakan kebajikan dan cukup etis (menerapkan adab). Dalam hal ini tidak termasuk dalam hitungan dan tidak ada unsur tercela, bahkan dia berhak atas pahala dan pujian. Wallahu a’lam.

Komentar bertahan »

Golongan Perempuan Penghuni Surga

Penulis : Saukya Singgih

KotaSantri.com : Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda, “Empat jenis wanita yang berada di syurga dan empat jenis wanita yang berada di neraka.” Dan beliau menyebutnya di antara empat jenis perempuan yang berada di syurga ialah :

1. Perempuan yang menjaga diri dari berbuat haram dan selalu berbakti kepada Allah serta suaminya. Isteri tidak wajib taat suruhan dan arahan suami, apabila suruhan dan arahan itu bertentangan dengan hukum Allah SWT. Imam Al-Ghazali menegaskan, “Seorang isteri wajib mentaati suami sepenuhnya dan memenuhi segala tuntutan suami dari dirinya sekiranya tuntutan itu tidak mengandungi maksiat.”

2. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati dengan keadaan yang serba kekurangan (dalam kehidupan) bersama suaminya. Sabda Rasulullah SAW, “Jihad seorang wanita ialah taat pada suami dan menghiaskan diri untuknya.”

3. Perempuan yang bersifat pemalu. Jika suaminya pergi, maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya. Jika suaminya datang, ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.

4. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan ia mempunyai anak-anak yang masih kecil, lalu ia mengekang dirinya hanya untuk mengurusi anak-anaknya dan mendidik mereka serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia kawin karena khawatir anak-anaknya akan tersia-sia (terlantar/terbiar).

Komentar bertahan »

Elegi Abdul Kasan di Tanah Haram

Oleh Syaifoel Hardy

Dua tahun lalu, beberapa hari menjelang Hari Raya Qurban, kami berada di Tanah Suci. Mas Kasan dan Isterinya (kakak kandungku) mendapatkan karunia besar Allah dengan diberikannya kesempatan menunaikan ibadah Haji. Kesempatan yang sama juga dilimpahkan Allah Ta’ala kepadaku. Subhanallah. Bedanya, mereka mengeluarkan biaya tidak kurang dari Rp 55 juta, sedangkan aku tidak perlu mengeluarkan biaya sendiri kala berhaji. Aku ikut Hamla (agen pemberangakatan haji dan umrah) sebagai tenaga kesehatan di Sharjah, United Arab Emirates. Waktu itu aku masih tinggal di UAE. Alhamdulillah.

Dalam hati, sebelum berangkat ke Arab Saudi, senang sekali nantinya bisa bertemu dengan Mas Kasan dan Isterinya. Aku yang meski hampir setiap tahun pulang dan bertemu dengan keduanya, tentunya berharap banyak apabila bersua di Tanah Suci dalam momen mulia ini. Berbagai rencana muncul dalam benakku. Mulai dari kemungkinan bisa beribadah bersama hingga makan di restoran atau sekedar jalan-jalan di pasar tradisional Arab. Bagiku, impian ini lumrah dimiliki oleh mereka yang sedang tinggal dan bekerja di luar negeri manakala ketemu dengan saudaranya.

Allah Ta’ala Maha Pembuat Rencana. Entah di mana letak kesalahan komunikasi kami. Mereka konon tinggal di Aziziyah sementara aku tinggal di Sulaimaniyah. Jarak kami sekitar 12 km. Selain sulitnya transportasi pada musim haji, status yang merangkap (bekerja dan berhaji) menjadikan ruang gerakku sempit. Jangankan mau jalan-jalan ke Aziziyah, untuk beribadah salat berjamaah di Masjidil Haram saja aku seringkali harus lari-lari. Mana pula dalam jamaah kami banyak orang yang sakit pada hari-hari pertama hingga pekan kedua di Masjidil Haram. Aku sibuk sekali, pagi, siang, sore hingga sekitar jam 10 malam.

Aku tidak memiliki nomer telepon Mas Kasan dan Isterinya. Aku juga tidak tahu mereka ada di mana. Mereka tidak meninggalkan nomer telepon kepada keluarga yang ada di Indonesia. Di hampir setiap langkahku di pelataran Masjidil Haram, selalu aku sempatkan untuk keliling, menoleh ke sana- ke mari, siapa tahu bisa bertemu dengan mereka. Tidak juga ketemu meski setiap sudut masjid besar itu kutelusuri.

Suatu hari pernah saya nekat berjalan ke Aziziyah usai salat Dzuhur. Aku punya waktu empat jam, dari jam 12 siang hingga 4 sore. Klinik kami buka pagi hingga jam 11. 30 dan mulai buka lagi jam 4. 30 sore. Aku rasa itu cukup untuk pulang pergi dengan jalan kaki Masjidil Haram-Aziziyah-Masjidil Haram. Tidak terhitung jumlah orang Indonesia dari berbagai Kloper yang aku tanya, tentang kedua nama saudaraku yang konon ada dalam Kloper 62. Dari satu gedung ke gedung lainnya, semua aku jelajahi di sepanjang kota Aziziyah di mana umumnya orang kita tinggal. Namun sia-sia….

Hingga aku selesai Haji dan berangkat ke Madinah, semua rencana di atas tidak pernah tercapai. Aku pun pasrah. Barangkali Allah Ta’ala tidak menghendaki pertemuan kami waktu itu. Aku pun harus mengambil hikmah dari semua ini.

Sampai pada waktunya usai kontrak waktu kami di Madina, aku tidak pernah mendengar kabar tentang keduanya. Saat itu aku sudahi pula harapan untuk bertemu. Kupikir sesudah di UAE saja nanti akan kucari tahu beritanya.

*****

Dari rumah, akhirnya aku mendengar bahwa ketika sampai di Mekah, Mas Kasan jatuh sakit. Jangankan merampungkan ibadah Haji, untuk mengikuti salat berjamaah saja tidak bisa. Isterinya, sudah dengan sendirinya akan sibuk dengan urusan kesehatan Mas Kasan. Stroke nya kambuh. Mas Kasan berbaring total di tempat tidur. Tidak mampu untuk berjalan sama sekali, ke kamar mandi sekalipun. Astaghfirullah.

Rasanya aku salah besar waktu itu lantaran berprasangka ‘buruk’ kepada mereka. Sebenarnya sewaktu di Mekah dan Madinah, mereka bisa mendapatkan nomer HP ku dan menghubungiku dengan mudah. Namun kenapa tidak dilakukan? Sementara aku tidak mungkin mengontak mereka tanpa mengetahui nomer teleponnya. Dari sana kemudian aku sadar, mengapa kami jadi tidak pernah bertemu. Karena nyaris selama di Mekah dan Madina kakakku repot mengurus suami yang lumpuh total, bicarapun tidak mampu. Kakakku tidak pernah bisa ke luar kamar oleh karena kondisi suami.

*****

Ketika jamaah haji Indonesia mulai pulang, berangsur-angsur tiba giliran kakakku. Namun ketika dijemput di Juanda Surabaya, kakak perempuanku tidak lagi berdua bersama suami, tanpa Mas Kasan. Semua keluarga terharu dibuatnya. Di tengah-tengah kegembiraan para jamaah haji yang datang, situasi kami justru sebaliknya.

Saya tidak bisa membayangkan betapa pedihnya hati seorang isteri yang berangkat bersama suami ke Tanah Suci, akan tetapi kembali ke Tanah Air sendirian. Sang suami sakit, tidak sadarkan diri di negeri orang.

Sekitar satu bulan kemudian baru ada kabar dari perwakilan di Arab Saudi, bahwa Mas Kasan bakal segera dipulangkan sesudah kondisinya membaik. Dari Malang, kakakku menjemput suaminya ke Jakarta.

******

Sebagai seorang kesehatan, aku menyadari betapa repotnya bagi orang awam seperti kakakku merawat orang sakit stroke seperti Mas Kasan. Beberapa kali aku dengar berita dari salah seorang kakakku lainnya, bahwa membutuhkan ekstra kesabaran dalam merawat Mas Kasan. Boleh dibilang semua kebutuhan dari A sampai Z Mas Kasan tidak mampu melakukannya sendiri, meski berbagai upaya pengobatan sudah dilakukan. Akhirnya diputuskan untuk di rawat di rumah saja. Konsekuensinya, isterinya lah yang pada akhirnya merangkap berbagai peran dalam hal ini.

******

Akhir Juni lalu, ketika sebelum pindah ke Qatar, aku sempat pulang barang dua pekan. Esok harinya aku langsung menemui Mas Kasan. Tubuhnya tidak lagi segagah ketika kutemui beberapa tahun lalu. Senda guraunya tidak lagi nampak. Kulum senyum yang tersungging dari bibir nya pun tidak lebih dari tempat persembunyian deritanya.

Aku duduk di sebelah ranjangnya di ruang kecil dengan lampu buram sebagaimana permintaannya. Kugenggam erat jari-jari kurus mantan TNI AL yang dulu kerap aku temui kala dia masih aktif dinas. Aku menangkap isyarat sebagian memorinya sudah hilang. Kami berbicara tentang hal-hal yang aku rasa sudah di luar ‘kehidupan’ normal kami. Mas kasan, meski demikian, berusaha untuk tetap memperlihatkan ketegaran dalam menghadapi derita panjangnya ini. Hal itu aku ketahui saat sempat-sempatnya menanyakan: “Kamu baik-baik saja?” kepada saya yang segar-bugar di depan pelupuk matanya. Ya Allah…..

Mas Kasan adalah saudara ipar yang aku tidak punya jarak dengannya. Hubunganku dengannya lebih dekat ketimbang dengan saudara-saudaraku sekandung. Aku kadang terlalu terbuka kepadanya. Bahkan untuk mengatakan bahwa dia tidak pernah memberiku uang saku kepadaku sewaktu sekolah dulu, aku tidak sungkan-sungkan. Apalagi yang namanya pinjam jaket TNI-AL nya, minta sepatu, hingga pinjam motornya, bukan persoalan bagiku.

Semua kenangan di atas tergambar jelas lagi ketika, sekali lagi, jari-jemarinya yang dingin masih ada dalam kehangatan tanganku. Aku berusaha menghibur hatinya dengan sering-sering menyebut Hamdala, beristighfar, serta Salawat Nabi. Aku ingatkan kakakku untuk bersabar dalam merawatnya.

Keriput kulit di wajahnya membuatku tidak sanggup untuk melupakan semuanya. Aku cium kedua pipi kakak iparku yang dingin yang hanya berselimut sarung tua sebelum aku melangkahkan kaki, berpamitan.

Inikah pertemuan terakhir denganmu Mas Kasan?
Sebuah pertanyaan yang dijawab oleh Allah Ta’ala pagi tadi ketika sms kuterima dari Tanah Air.

“Om. Pakde Kasan sudah dipanggil Allah tadi pagi jam setengah tiga”.

Aku masih larut dalam tidur. Jarum jam di sebelah tempat tidurku menunjukkan pukul 04. 10 waktu Qatar atau 08. 10 WIB ketika sms itu datang. Salah seorang kakak iparku, Mas Kasan, 60 tahun umurnya, berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

******

Hidup di negeri seberang, terkadang memang indah, namun tidak jarang hari-hari seperti ini harus dilalui dengan bersimbah duka. Hari di mana saat-saat kelahiran, perkawinan, kesakitan dan kematian orangtua, sanak saudara, kerabat dan sejawat tidak nampak di depan mata. Hari yang di dalamnya, Mas Kasan, teman atau siapapun bukan sebuah perkecualian.

Komentar bertahan »

Memendam Rindu

Oleh Muhammad Rizqon

Ahad yang lalu, saya berkesempatan menghadiri walimatussafar di sebuah masjid di kawasan Islamic Center Pondok Gede. Saya memuji ide kreatif mengadakan acara walimatussafar di masjid itu. Praktis, efisien, ekonomis dan lebih efektif dibanding harus sendiri-sendiri mengadakan acara tersebut. Undangan —termasuk saya— merasa beruntung karena dengan sekali datang, sahabat-sahabat yang dipanggil Allah pergi ke Baitullah itu bisa dijumpai sekaligus. Kunjungan tersebut bagi saya membawa manfaat yang cukup besar. Selain bersilaturahim, kami bisa saling bermaafan, saling berdoa untuk kebaikan, dan saling berwasiat taqwa. Kunjungan itu juga menjadikan saya bermuhasabah dan berusaha mengambil hikmah tentang keajaiban-keajaiban yang menghantarkan seseorang bisa pergi berhaji.

Saya teringat dengan sahabat saya, yang tahun lalu berangkat haji atas biaya kantor. Namanya Imam Gunawan, seorang PNS dari kantor pemerintah. Di kantor yang lama, dia adalah seorang pejabat yang sederhana. Pulang dan pergi kantor menggunakan bus jemputan. Di kantor dia adalah ketua lembaga yang menangani pemakmuran masjid kantor. Di tempat tinggalnya, dia juga terkenal sebagai seorang imam masjid dan ketua RT yang sederhana. Ke mana-ke mana kalau tidak naik angkot, ya naik sepeda atau jalan kaki. Jika kondisinya penting, dia tidak segan menggunakan taksi. Tetapi soal ilmu agama, banyak orang yang menaruh respek kepadanya. Salah satu pesantren di daerah Mangkang Semarang, pernah dia diami beberapa tahun di sana sebelum dia kuliah di fakultas hukum Universitas Diponegoro.

Saat saya berkunjung ke rumahnya sepulang berhaji, di kawasan Villa Nusa Indah, saya mencoba menggali rahasia-rahasia apakah yang menjadikannya dipanggil Allah ke Baitullah dan berkunjung ke masjid Nabawi. Dia berujar kepada saya, “Betul. Saya tidak pernah mengira akan pergi naik haji, terbayang pun tidak. Saya menyadari gaji saya tidak seberapa. Keperluan saya tidak sebanding dengan gaji yang saya peroleh. Menabung pun saya tidak bisa. Tapi itulah barangkali kekuasaan Allah”.

“Panggilan Allah itu pasti ada sebabnya Pak Imam. Tidak mungkin Allah memanggil kalau tidak ada sesuatu yang spesial dari Bapak. ” Saya mencoba menggali sesuatu yang mungkin menjadi rahasia keajaibannya.

”Ya. Saya terkadang suka bermimpi (punya keinginan) —kalau bukan dikatakan berkhayal—alangkah bahagianya jika bisa pergi berhaji. Mungkin itu rasa rindu dari lubuk hati saya terdalam. Tetapi saya selalu berusaha menepis keinginan itu karena rasa-rasanya tidak mungkin. Tetapi satu sisi saya juga menyadari bahwa Allah itu adalah Maha Kuasa terhadap keinginan hamba-Nya. Oleh karenanya, saya selalu memanjatkan doa —tidak peduli dikabulkan apa tidak—sehabis shalat fardhu dan itu sudah menjadi bagian dari doa-doa yang saya bacakan dihadapan jamaah sehabis shalat. Saya tidak tahu apakah karena saking rindunya saya pergi ke Baitullah, menjadikan doa-doa itu senantiasa terpanjat dalam setiap kesempatan berdoa yang saya panjatkan. Dan rupanya Allah mendengar doa-doa saya itu. Waallahu’alam. ”

Dalam hati saya berucap, boleh jadi itulah rahasianya, kenapa Allah berkenan memanggilnya pergi berhaji.

***

Saya melihat tidak setiap mereka yang berhaji adalah karena semata-mata memenuhi panggilan Allah. Bisa jadi hanya sekedar ingin berwisata, berdagang, jalan-jalan, atau motif-motif lain yang bukan karena ibadah. Hal ini antara lain nampak dari perilaku mereka setelah pulang dari Baitullah. Biasanya mereka yang berhaji bukan semata karena panggilan Allah itu, tidak menunjukkan perubahan yang berarti —baik dalam perilaku maupun ibadah keseharian— antara sebelum dan sesudah naik haji. Boleh jadi, inilah isyarat Allah sebagai bahan pelajaran bagi mereka yang belum diberi kesempatan pergi berhaji, bahwa pergi haji bukanlah semata-mata masalah fisik dan keuangan tetapi juga masalah ruhiyah (hati).

Saya menyakini bahwa pergi hajinya sahabat saya adalah semata-mata panggilan dari Allah.
Pertama, saya mengetahui bahwa dia memendam rindu pergi berhaji, dan panggilan Allah itu adalah wujud respon dan kasih sayang-Nya. Saya coba merenungkan, apa mungkin seseorang akan dipanggil jika tidak menunjukkan keinginan? Katakanlah panggilan test rekrutmen pegawai tentu ditujukan bagi mereka yang menginginkan pekerjaan, yaitu bagi mereka yang telah mengirim applikasi. Bagi mereka yang tidak mengirimkan applikasi tentu tidak mungkin di panggil.

Kedua, saya mengetahui bahwa dia memiliki kesiapan mental (iman) dan ilmu yang cukup. Boleh jadi, dengan kesiapan inilah Allah berkenan memanggilnya. Analogi dari proses rekrutmen tadi, seleksi atas calon pegawai yang diterima bekerja, biasanya melalui serangkaian test yang diujikan. Ada test kemampuan umum, psikotest, wawancara, TOEFL, dan test-test lainnya. Test-test itu pada hakekatnya adalah untuk mengetahui kemampuan, kepribadian, dan keseriusan untuk bekerja. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, Allah senantiasa menguji hambanya untuk mengetahui mana yang benar imannya, yang benar kerinduannya, dan yang benar kesiapan ruhiyahnya untuk pergi berhaji. Allah dengan kekuasaannya, sanggup memampukan orang-orang yang tidak mampu dan memberi jalan pergi ke Baitullah, tentu dengan syarat kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah adalah kecintaan yang jujur.

Kisah Imam Gunawan sahabat saya, memberi pelajaran bahwa Allah yang Maha Kaya, tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba yang memendam rindu ‘bertemu’ dengan-Nya. Kisah tersebut juga memberikan pelajaran tentang benang-benang merah sebuah kehidupan. Artinya, potongan kehidupan seseorang itu hendaknya dilihat secara utuh bukan bagian per bagian. Kenikmatan yang diperolehnya saat itu bukanlah karena suatu kebetulan, tetapi bisa jadi adalah buah ketaatan dan kecintaan kepada Rabbnya.

Saya mengambil hikmah bahwa jika saat ini kita belum dipanggil pergi berhaji, boleh jadi rindu kita untuk pergi haji belumlah rindu yang sebenar-benarnya (tidak seperti rindunya sahabat saya tersebut). Acara walimatussafar membangkitkan motivasi saya untuk segera berbenah mempersiapkan dan memperbaiki diri. Sangat mungkin jika saya kurang bersungguh-sungguh atau belum sepenuhnya memendam rindu.

***

Ada kisah menyedihkan tentang kerinduan yang direkayasa. Baru-baru ini di lingkungan saya, beberapa ibu-ibu (ada sekitar 35 orang), dijanjikan bisa pergi haji dengan membayar hanya membayar Rp 150. 000 (kalau tidak dicalokan bisa Rp 75. 000). Anehnya, jadwal manasik haji yang dijanjikan selalu mundur dan mundur. Dan ibu-ibu maklum saja dengan berbagai alasan yang dilontarkan panitia. Sampai detik ini, manasik haji pun belum dilakukan. Malah mereka dijanjikan bisa berangkat tanggal 13 Desember. Mana mungkin? Tetapi nampaknya mereka sudah ‘gila’ dan tidak bisa menerima penjelasan yang masuk akal dari siapapun.

Obsesinya begitu melambung untuk pergi naik haji, tetapi kesiapan mental dan ilmunya sama sekali tidak diperhatikan. Kasihan, mereka menjadi korban dari penipuan. Salah seorang teman tetangga yang emaknya hampir tergiur kegiatan tersebut, menegur emaknya, “Mak, mending gak usah urus gituan dach. Sekarang emak lihat, shalat subuh saja masih bolong-bolong. Itu aja dulu dach diurusin. Ngak usah ngurusin pengin ikut naik haji dari yayasan yang gak jelas. Iya kalo bener, kalau kagak kan malu. ”

Kisah ibu-ibu yang tertipu dengan janji haji, selain menunjukkan bahwa keinginan yang tidak didasari ilmu dan keikhlasan adalah keinginan yang kosong juga menunjukkan kebanyakan masyarakat kita masih sangat awam tentang arti dan makna berhaji. Saya bisa memastikan, kerinduan mereka bukanlah sepenuh rindu. Sebab Alllah hanya akan memudahkan jalan bagi orang-orang yang jujur merindukan-Nya.

Semoga Allah membimbing kita dengan kerinduan yang benar di jalan-Nya. Amin.

Waallahu’alam.

Komentar bertahan »

Suatu Pagi di Pasar Grosir

Oleh Fiyan Arjun

Suasana seperti itu biasa mewarnai pasar itu tiap pagi. Pasar grosiran. Baik grosiran bahan baku pakaian jadi maupun yang sudah jadi (siap pakai). Entah itu t-shirt, celana, training, pakain bayi sampai daster. Dan suasana hiruk pikuk dan hilir mudik pun sudah mulai hidup. Begitu pun para pencari sesuap nasi mulai nampak siap-siap untuk “bergerilya. ” Tak ketinggalan pula “penghuni” pasar itu. Para kuli panggul yang memakai pakaian “seragam” kuning-kuning ikut bergerilya pula. Mereka sudah siap siaga satu untuk menguras keringatnya untuk memikul beban yang memberatkan di pundaknya kadang pula di punggungnya. Yakni, memikul berupa berkarung-karung yang berisikan bahan baku pakaian jadi atau bahan yang sudah layak dipakai. Bahkan di dalam karung-karung itu bisa-bisa berisi berkilo-kilo beratnya. Dan di antara meraka pula ada yang saling mencari “perhatian” dan juga mencari kesempatan. Alih-alih siapa tahu para pemborong, pembeli atau cukong ada yang sudi memakai tenaga mereka untuk memikul hasil mereka membeli di pasar grosir itu. Demikianlah suasana pagi di pasar grosir itu yang membuat saya harus sedikit “membuka” mata. Ikut merasakan keprihatian dan menaruh iba kepada para kuli panggul di pasar grosir itu. Kebetulan pagi itu saya ada di pasar grosir itu. Itu pun karena dipaksa oleh saudara laki-laki untuk bangun pagi-pagi untuk membantu dirinya mencari pakaian grosiran yang akan diberikan nanti kepada saudara-saudara saya yang lainnya. Ya, saudara laki-laki saya itu pagi itu ingin membeli pakain grosiran di pasar itu. Sebenarnya saya ingin menolaknya tapi saya tak enak hati dengan saudara laki-laki saya itu. Masa sih hanya membantu untuk menemani saja kok sulit minta ampun dan menolak? Itu yang saya takutkan jika suatu saat nanti saudara laki-laki saya itu berkata demikian kepada saya. Dan di mana muka saya ini saya letakan? Akhirnya saya pun terpaksa mengikuti pintanya. Pergi bersama-sama dengann ya ke pasar grosir itu. Oya, mengenai letakpasar grosir itu tidak jauh dari rumah saya. Hanya tinggal naik angkot sekali saja saya bisa menuju pasar itu tanpa harus naik urat dulu. MACET. Maklum namanya Jakarta! Bukan Jakarta kalau bukan macet seperti itu. Jika telat sedikit atau terlambat bangun pagu (kesiangan). Gejala-gejala macet pun mulai nampak. Dan siap-siap saja tes uji kesabaran! Lama, saudara laki-laki saya itu mencari pakaian grosiran yang sepadan dengan isi kantongnya. Namun belum ada yang sreg di hati saudara laki-laki saya itu. Beda dengan saya? Saya malah asyik dengan “dunia” saya. Saya asyik masyuk melihat-lihat sekeliling keadaan pasar itu. “Siapa tahu saya dapat inpirasi untuk bahan saya menulis artikel, ” gumam saya tak karuan. Ternyata benar saya dapat inspirasi untuk menulisnya.(Dan inilah tulisan yang saya tulis itu). Maklum saya ini “gatal” kalau melihat keadaan jika di sekeliling saya apalagi membuat saya prihatin dan terenyuh saya paling bisa mencari inspirasi buat tulisan. Saking asyiknya dengan dunia saya tiba-tiba ekor mata saya menangkap “pemandangan” yang cukup membuat saya menjadi penasaran. Ya, saya melihat sosok kuli panggul di pasar itu. Sosok kuli panggul yang sangat belia. Kalau saya mengira-ngirakan usianya lebih muda dari saya. Hingga akhirnya dalam benak saya ikut terusik. “Apakah saya bisa setangguh dan sekuat dirinya itu, ” kata saya dalam hati saja sambil ekor mata saya tak lepas dari sosoknya yang sedang menunggu “pasiennya” itu. Entahlah. Tapi saya sangat bangga dan mengangkat 4 jempol untuk ketangguhannya itu. 2 jempol tangan saya dan ditambah 2 jempol kaki saya. Klop bukan? Kuli panggul itulah pekerjaan sosok anak belia itu yang saya tangkap dan saya simpulkan. Pekerjaan bagi sebagian orang yang melihatnya sebelah mata. Hina dan tak berkelas. Tapi bagi saya saya tidak! Walaupun pekerjaannya seperti itu bagi saya pekerjaan itu sangat mulia. Daripada mengemis dan menminta-minta lebih baik bekerja seperti itu. Menjadi kuli panggul di pasar grosiran itu. Bukankah begitu? Ya, walau pekerjaan itu hina dan dipandang sebelah mata belum tentu di mata Yang Maha Kuasa demikian. Boleh jadi pekerjaan itu lebih baik! Dan bukan itu saja pekerjaan ini juga tak segampang membalikan tangan. Hanya bermodalkan “tenaga kuda” sudah cukup memanggul dan menjadi kuli panggul. Itu salah! Melainkan juga harus menjaga fisik yang sehat dan kuat serta membangun “realationship” kepada seseorang yang ingin sudi menggunakan jasanya. Begitulah yang saya rasakan suasana di pasar grosiran di pagi itu. Hingga akhirnya saya benar-benar harus BUMBATA. Buka Mata Buka Telinga terhadap sekeliling saya. Bahwa ada di sekeliling saya yang lebih memprihatinkan hidupnya dibanding saya ini. Seperti sosok belia yang saya temukan di pasar gorsir itu. Sebagai kuli panggul yang tangguh dan kuat. Ssemoga saja sosok sepertinya itu bisa mampu menaklukan hidupnya dan bisa survive menjalani hari-harinya sebagai kuli panggul. Bukan itu saja apalagi ia bukan orang pribumi. Ia hanyalah seorang perantauan yang entah dari mana asalnya ia berada saya juga tidak tahu? Entahlah. “Dari Abdillah bin Umar, Rasulullah Saw. Bersabda: “Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya“. (HR Ibnu Majah dan Imam Thabrani).

Komentar bertahan »

Mohon Doa Restu

Assalamualaikum Wr. Wb.

ai-ema.jpgKami sekeluarga minta dari pembaca blog saya ini dibacakan surat Al Fatihah untuk kelancaran dan keselamatan serta hasil yang maksimal dalam oprasi tumor orang tua kami, yang insya alloh akan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 17 November 2007 jam 07.00 WIB, yang bertempat di Rumah Sakit Sumberwaras Ciwaringin Cirebon.

sebelum dan sesudahnya kami sekeluarga ucapkan banyak-banyak terimakasih semoga amal dan pahalanya diterima oleh alloh SWT. Amiiin.dan orang tua kami bisa sembuh dan sehat seperti sediakala.

Komentar bertahan »

Keburukan datang dari Diri Sendiri

Oleh Muhammad Rizqon

Ada dua kisah sedih menjelang pernikahan yang baru-baru ini terjadi di lingkungan Teman saya.

Kisah pertama:

Menjelang pesta pernikahan tetangga sebelah, isteri saya turut berpartisipasi dalam acara masak-memasak menyiapkan hidangan pesta pernikahan untuk esok harinya. Suatu hal yang lazim jika para ibu berkumpul maka saling curah perasaan pun terjadi. Pada saat itulah ibu dari sang putri calon pengantin mencurahkan perasaannya. Bagi ibu-ibu daerah tersebut apa yang diungkapkan oleh sang ibu adalah rahasia di balik pernikahan yang akan dilangsungkan esok hari, sebab memang ibu-ibu sekitar rumahnya belum mengetahui dengan persis siapa calon suami dari mempelai putri.

Isteri saya sungguh terkaget ketika sang ibu dari mempelai menceritakan bahwa calon suami putrinya beberapa hari yang lalu tersangkut perkara pembunuhan yang tidak disengaja sehingga ia terancam masuk penjara. Kisahnya ia mengendarai sepeda motor, dan sepeda motornya tersebut menabrak seseorang sehingga menemui ajalnya. Ia pun segera diproses, polisi segera menjatuhkan hukuman penjara sebelum proses lebih lanjut dilakukan oleh pengadilan. Namun karena sang terdakwa memiliki hajat yang harus ditunaikan yaitu melangsungkan pernikahan, maka polisi memberi waktu untuk melangsungkan pernikahan tersebut, dan setelah pernikahan usai, ia akan segera digiring ke penjara di kepolisian.

Ibu dari mempelai perempuan itu bercerita kepada isteri saya dan semua yang hadir pada acara memasak di malam hari itu dengan derai air mata. Tak terbayang juga bagaimana perasaan putrinya yang akan menikah dengan calon terpidana. Bagi yang menikah dengan pasangan yang tugas ke luar kota barang kali tidak begitu bermasalah karena ada harapan sang suami akan segera pulang dan menjemput untuk diajak serta. Bagi dia yang suaminya akan memasuki penjara, tentu ia tidak boleh turut serta. Kapan mereka bisa berkumpul kembali pun belum diputuskan oleh pengadilan. Kalau hanya beberapa bulan, masih ada harapan untuk menanti. Kalau bertahun-tahun, bagaimanakah perasaan jiwanya yang telah terpasung oleh ikatan pernikahan sementara ia pun ingin menikmati pernikahan tersebut?

Isteriku berusaha menyabarkan agar sang ibu dan sang putri tabah menghadapi cobaan-Nya. Bagaimanapun ini adalah takdir Allah yang mana di balik takdir itu pasti ada kebaikan-kebaikan yang akan dipetik. Barangkali ini adalah teguran Allah atas kehilafan-kehilafan yang dilakukannya, maka tidak ada jalan terbaik selain bertaubat dan berusaha memperbaiki hidup agar lebih baik di jalan Allah.

Kisah kedua:

Bu Fulanah isteri seorang pejabat perpajakan telah merencanakan pesta pernikahan putrinya secara matang. Sebagai orang sangat berada, berbagai acara telah disiapkan secara mewah. Gedung, katering, pernik-pernik pernikahan, dokumentasi, busana, panitia, dan lain-lain, telah disiapkan secara fiks dan matang untuk acara pernikahan putrinya tersebut. Boleh jadi, mahalnya biaya tidak bermasalah yang penting ada kepuasan penunjukkan status hidupnya. Singkat cerita, tiga hari menjelang pernikahan, beliau menerima kabar bahwa sang calon menantu mengalami kecelakaan sehingga meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Sungguh, meninggalnya sang calon menantu tersebut adalah berita yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Bayangan pernikahan indah putrinya pun bercampur dengan bayangan upacara pemakaman sang calon menantu. Dada sang ibu rasanya sempit dan sesak, kemudian tidak lama ia terkulai jatuh pingsan. Pasca kejadian itu, sang ibu masih diliputi suasana shock yang diiringi rasa sakit secara fisik.

Banyak sisi hikmah yang bisa diambil dari kejadian tersebut. Yang menarik buat saya kenapa justru sang ibu calon mempelai putri yang mengalami kesusahan dan bukan putrinya? Bagi saya hal ini mengisyaratkan bahwa memang nuansa ikatan batin sang ibu kepada sang putri menjelang pernikahan memang sungguh besar. Bayangkan, sang ibu hendak mengalihkan tanggung jawab pemeliharaan sang putri kepada orang lain. Hal ini akan sedikit berbeda bagi sang ibu mempelai laki-laki yang akan tetap menjadi ibu pasca pernikahan kelak.

Karena merasa akan mengalihkan tanggung jawab itulah, sang ibu boleh jadi ingin berbuat yang terbaik bagi putrinya. Hanya saja yang menjadi catatan di sini adalah bahwa yang terbaik menurut sang ibu belum tentu terbaik menurut Allah Swt.

Calon menantu yang hendak dipenjara atau calon menantu yang meninggal dunia, boleh jadi dipandang oleh sang ibu masing-masing sebagai hal yang buruk dan diluar persangkaan mereka. Tetapi boleh jadi, hal itu adalah terbaik bagi putrinya dan terbaik menurut Allah Swt.

Pelajaran utama dari penggalan kisah tersebut bagi saya adalah bahwa apa yang menjadi harapan manusia tidak selalu selaras dengan kehendak Allah. Manusia boleh bermimpi, bercita-cita, bekerja, berusaha, dan berjuang. Tetapi yang harus selalu tertanam adalah bahwa realisasi dari mimpi, cita-cita, dan tujuan dari upaya dan perjuangan tersebut tidak lepas dari kehendak Allah Swt.

Yang patut menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana agar keinginan kita (selalu) selaras dengan kehendak Allah sehingga hidup kita selalu diliputi oleh kebaikan. Allah memberi jawaban dalam Al-Qur’an:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ” (QS. 2:186).

Formula yang diberikan Allah dalam Al-Quran ini begitu simpel dan mudah, yaitu jika kita merasa keinginan kita tidak selaras dengan kehendak Allah (tidak dikabulkan Allah), berarti masih ada masalah keimanan dalam diri kita, baik berbentuk tidak memenuhi seruan-Nya atau berbuat maksiyat kepada-Nya.

Sang ibu yang calon menantunya meninggal tersebut bersuamikan pegawai perpajakan. Kehidupannya mentereng dan wah. Kekayaan tersebut sudah lama nampak sebelum adanya reformasi kantor perpajakan seperti sekarang ini, yang mana pegawai-pegawainya digaji cukup besar. Boleh jadi, kekayaan yang bukan haknyalah yang menjadikan keinginannya tidak dikabulkan Allah Swt.

Sedangkan ibu dari calon mempelai yang dipenjara, kurang rajin dalam hal ibadah kepada Allah dan kurang bersosialisasi dengan lingkungan dalam bentuk pengajian atau majelis taklim. Boleh jadi, itulah yang menjadikan keinginannya tidak terkabul di sisi Allah.

Boleh jadi pula, bukan semua itu penyebab pastinya, saya hanya bisa mengambil hikmah dari yang nampak. Tetapi saya yakin, bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah dan musibah itu datangnya dari diri kita sendiri.

Rumusan sederhana dalam menghadapi keburukan ini, sangat relevan jika kita applikasikan dalam segmentasi kehidupan apapun. Diri sendiri, keluarga, masyarakatdan bahkan kehidupan bernegara. Jika kita mengalami keburukan (hal yang tidak menyenangkan), sadarilah bahwa itu datangnya dari diri kita sendiri bukan orang (pihak) lain.

Alangkah indahnya jika hidup dipenuhi dengan orang-orang yang mawas diri dan introspektif ini. Perpecahan pun dapat diminimalisir dan “kambing hitam” pun barangkali tidak laku. Justru yang terjadi adalah masing-masing elemen akan berusaha memperbaiki diri dansecaraagregatif menimbulkan perbaikan yang luar biasa. Subhanallah.

Waallahu’alam Bishshawaab

Komentar bertahan »

SI Tolol, Si Bijak, dan Kendi

Seorang tolol merupakan panggilan  bagi  orang  biasa,  yang senantiasa  salah  senafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang  lain.  Ia melakukan  semuanya  itu  begitu  meyakinkan  sehingga  bagi dirinya  dan  orang-orang  semacamnya  segi  kehidupan   dan pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar. 

Seorang  tolol  semacam  itu pada suatu hari disuruh membawa kendi menemui seorang bijaksana  untuk  meminta  anggur.  Ditengah   jalan,   karena   kecerobohannya   Si   Tolol   itu membenturkan kendinya ke batu, dan pecah. 

Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia  memberikan pegangan   kendinya,   katanya,   “Tuan  Anu  menyuruh  saya memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan  ia dicuri batu.”

Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang bijaksana itu bertanya.”Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku pegangannya?”

“Saya tidak setolol yang disangka orang,” kata Si Tolol itu,

“oleh  karena  saya  membawa  pegangan   kendi   ini   untuk membuktikan kebenaran ceritaku.”

Catatan

Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru darwis  adalah  bahwa   kemanusiaan   umumnya   tidak   bisa membedakan   suatu   kecenderungan   tersembunyi   di  balik peristiwa-peristiwa,    yang    mestinya     memungkinkannya memanfaatkannya  sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat kecenderungan itu disebut Sang  Bijaksana,  sementara  orang kebanyakan disebut “tidur,” atau di panggil Si Tolol.

Kisah  ini,  yang  dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel Wilberforce  Clarke  (Diwan-i-Hafiz)  merupakan  salah  satu contoh  khas.  Dengan  menyerap  ajaran  itu lewat tokoh dan kisah  yang  dilebih-lebihkan,  orang-orang  tertentu  mampu benar-benar  “memekakan”  diri untuk menangkap kecenderungan tersembunyi itu.

Kutipan ini berasal dari kumpulan kisah Sufi yang dikerjakan oleh  Pir-i-do-Sara,  “Yang mengenakan Jubah Bertambal” yang meninggal  tahun  1790  dan  dimakamkan  di  Mazar-i-Sharif, Turkestan.

Komentar bertahan »