Meniru Omongan

Membeo? Ya, si kecil suka sekali meniru omongan orang lain persis seperti burung beo. Memang inilah yang terjadi pada anak usia batita. Proses alami ini sangat bermanfaat. Peniruan bahasa tidak hanya dilakukan terhadap orangtua, melainkan juga teman sebaya, kakak, dan yang paling sering adalah televisi. Dengan membeo berarti anak mampu menunjukkan peningkatan kemampuannya berbahasa dan kosakatanya. Sementara orangtua pun dapat langsung mengoreksi pengucapan kata-katanya yang salah.

Membeo pun bisa menjadi sarana untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan, serta kebutuhannya secara lebih jelas. “Adek mau makan!”, contohnya. Kemampuan berekspresi dengan kata-kata hasil peniruan juga bermanfaat sebagai pelepasan emosi. Kalau dia kesal pada temannya yang tak mau meminjamkan mainan, terlon-tarlah umpatan, “Pelit!” misalnya.

BERI CONTOH BAIK

Kendati bermanfaat, membeo pun bisa berdampak negatif. Contohnya, anak ikut kebiasaan mengumpat tokoh-tokoh di film yang ditontonnya. Belum lagi kalau yang ditirunya merupakan kata-kata yang tidak sopan, kotor, atau bahkan tidak senonoh. Tentu saja sama sekali tidak adil bila menyebut ini sebagai kenakalan si batita. Ingat, si kecil hanya menirunya dari lingkungan dan sangat mungkin kita sendiri yang memberi contoh.

Meski pada dasarnya anak tidak memahami apa makna kata-kata tak pantas tadi, namun apa yang diucapkannya dapat membuat citra diri anak jadi negatif.

Tak hanya itu. Citra negatif ini bukan mustahil akan berimbas ke diri kita sebagai orang-tuanya yang besar kemungkinan akan dianggap sebagai orangtua yang “tidak becus mendidik anak”. Yang lebih parah, bila kebiasaan ini terbawa hingga besar, anak akan begitu mudah melontarkan kata-kata kotor dan kasar ketika emosinya meningkat. Sayang, kan? Karenanya, kondisikan anak untuk bertutur santun.

Setiap hari, beri contoh nyata bagaimana menyapa orang lain dengan ramah seperti, “halo”, “selamat siang”, atau “assalamualaikum” saat bertemu teman dan orang yang lebih tua. Juga mengajarinya bilang “terima kasih” saat mendapat sesuatu dari orang lain dan mengucapkan “permisi” ketika akan lewat di depan orang yang lebih tua.

Tentu saja saat anak mengucapkan kata-kata yang baik tadi, beri respons secara positif. Tak salah pula bila memberikan pujian yang akan membuatnya merasa tersanjung dan mau melakukannya lagi kelak. Untuk memperkuat perilakunya berikan rewards yang lebih konkret dengan memeluk, membelai, atau menciumnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: