Menjaga Konsumsi Perut

Perut manusia harus dijaga. Karena perut merupakan sumber energi badan, yang bisa menyebabkan badan sehat atau sakit. Karena itu, anda harus menjaga konsumsi perut dari segala makanan yang diharamkan, makanan syubhat (meragukan) dan makanan halal yang berlebihan. Semua ini harus diperhatikan apabila anda memiliki himmah (keinginan kuat) beribadah kepada Allah SWT.

Menjaga masalah haram dan syubhat, karena tiga alasan:

  1. Menjauhkan dari neraka jahannam.
  2. Seseorang yang mengkonsumsi makanan yang haram dan syubhat tidak mendapatkan tempat, untuk dapat dinilai bisa memenuhi realisasi lbadah, karena untuk mempraktikkan pengabdian (khidmah) kepada Allah, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan totalitas kalbu yang suci.Saya [al-Ghazaly] tegaskan, bukankah Allah SWT. melarang orang junub (berhadas besar) memasuki rumah-Nya, dan melarang orang yang berhadas menyentuh Kitab-Nya – padahal kedua orang itu dalam kondisi setelah [selesai] melakukan yang mubah? Bagaimana dengan orang yang sudah terlanjur tenggelam (munghamis) dalam kehinaan dengan objek-objek yang haram dan syubhat, dapat mengklaim bahwa dia melakukan pengabdian (khidmah) dan dzikir yang mulia kepada Allah SWT. yang sama sekali jauh dari yang mereka sangka?
  3. Orang yang memakan yang diharamkan dan yang syubhat adalah orang yang benar-benar dihalangi dari karunia Allah (al-mahrum). Walaupun dia melakukan perbuatan baik, amalnya tetap ditolak. Dia hanya memperoleh kepayahan belaka.

Kriteria yang diharamkan, apabila makanan itu milik orang lain yang dilarang oleh syara’, atau menurut dugaan kuat anda, adalah barang haram. Tetapi apabila ada sifat samar antara halal dan haram, dikategorikan syubhat (meragukan) – sisi keraguannya terletak pada apakah ia termasuk haram, yang di sisi lain la tampak seperti objek yang halal.

Adapun meninggalkan dari yang pasti haram adalah suatu keniscayaan wajib hukumnya, dan menahan diri dari yang syubhat adalah wujud dari ketakwaan dan wara’.

Ketahuilah, prinsip bahasan yang pokok dalam kitab mengenai hal ini, yakni ada 2 hal penting; pertama yang berkaitan dengan hukum syara’ dan dimensi eksoteriknya (zhahir). Kedua dimensi ketentuan (hukum) atas dasar sikap wara’  dan penerapannya.
Dalam bahasan ini, menurut syara’, tatkala  anda mengambil sebagian karunia Allah dari seseorang yang pada dasarnya menampilkan sikap kesalehan, maka hindari untuk mempertanyakan – sisi hukumnya – atau anda akan menjadi sasaran kemarahan orang itu, atau kecuali anda yakin pada sisi keharaman pada objek itu.

Adapun dari segi penerapan hukum berdasarkan sikap wara’ , hindari untuk mengambil apa pun itu  dari orang lain, sampai setelah penelitian yang menyeluruh dan mendalam, sehingga anda sampai pada keyakinan tidak ada unsur syubhat dari segi perolehannya saat itu. Jika tidak yakin, tampiklah benda itu.

Jika ada klaim yang menyatakan: dimensi wara’  bertentangan dengan dimensi syara’ dan hukum syariat. Ketahuilah -jawabnya – bahwa sikap wara’ itu terinspirasi pula dari syariat, dua sisi sebenarnya pada dasarnya saling terkait, syara’ memiliki dua peristilahan hukum: hukum [yakni mengonsumsi karunia Allah, penyayang. ] yang bersifat menunjukkan kebolehan (jawaz) dan hukum al-afdhal al-ahwath (yakni hukum keutamaan dan kehati-hatian).

Kita mengatakan suatu yang dibolehkan dengan istilah al-jaiz dalam konteks syara’ , dan istilah afdhal ahwath (prinsip hukum mengambil yang utama dengan sikap lebih hati-hati) adalah dalam konteks sikap wara’ – Dan Allah Maha Tahu.

Adapun tentang batasan menerapkan hukum berlebihan dalam mengonsumsi yang halal (fudhul al-halal): patut diketahui bahwa kategori-kategori (ahwal) yang mubah (dihalalkan) oleh syara’, pada garis besarnya, terdiri dari berbagai bagian di bawah ini.

Bagian pertama, tindakan seorang hamba yang mengonsumsi yang mubah untuk maksud-maksud membanggakan diri (mufakhiran), menumpuk sampai banyak (mukatsiran) sekaligus menerapkan perbuatan riya’, maka perbuatan ini dari segi lahiriah dimensi layak mendapatkan celaan, adapun dari segi amalan batin layak mendapat siksa neraka.Ketentuanya memang seperti itu, karena tujuannya adalah menerapkan perbuatan maksiat, siapapun yang memang berniat untuk melakukan itu, dia termasuk yang mendapatkan ancaman (wa’id).
Kedua, mengambil barang halal hanya untuk memenuhi hasrat dari egonya. – dan tidak ada tujuan lain, — ini akan menjadi alasan kuat bagi hamba untuk mendapatkan siksa, berupa penahanan dan akan dihisab kelak di akhirat.

Ketiga, mengambil barang halal dalam keadaan terdesak dia memerlukan sekadarnya untuk ibadah kepada Tuhannya.  Dia mengambil sebatas keperluannya. Tindakan ini merupakan kebajikan dan cukup etis (menerapkan adab). Dalam hal ini tidak termasuk dalam hitungan dan tidak ada unsur tercela, bahkan dia berhak atas pahala dan pujian. Wallahu a’lam.
Menjaga Konsumsi Perut
Perut manusia harus dijaga. Karena perut merupakan sumber energi badan, yang bisa menyebabkan badan sehat atau sakit. Karena itu, anda harus menjaga konsumsi perut dari segala makanan yang diharamkan, makanan syubhat (meragukan) dan makanan halal yang berlebihan. Semua ini harus diperhatikan apabila anda memiliki himmah (keinginan kuat) beribadah kepada Allah SWT.

Menjaga masalah haram dan syubhat, karena tiga alasan:

  1. Menjauhkan dari neraka jahannam.
  2. Seseorang yang mengkonsumsi makanan yang haram dan syubhat tidak mendapatkan tempat, untuk dapat dinilai bisa memenuhi realisasi lbadah, karena untuk mempraktikkan pengabdian (khidmah) kepada Allah, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan totalitas kalbu yang suci.Saya [al-Ghazaly] tegaskan, bukankah Allah SWT. melarang orang junub (berhadas besar) memasuki rumah-Nya, dan melarang orang yang berhadas menyentuh Kitab-Nya – padahal kedua orang itu dalam kondisi setelah [selesai] melakukan yang mubah? Bagaimana dengan orang yang sudah terlanjur tenggelam (munghamis) dalam kehinaan dengan objek-objek yang haram dan syubhat, dapat mengklaim bahwa dia melakukan pengabdian (khidmah) dan dzikir yang mulia kepada Allah SWT. yang sama sekali jauh dari yang mereka sangka?
  3. Orang yang memakan yang diharamkan dan yang syubhat adalah orang yang benar-benar dihalangi dari karunia Allah (al-mahrum). Walaupun dia melakukan perbuatan baik, amalnya tetap ditolak. Dia hanya memperoleh kepayahan belaka.

Kriteria yang diharamkan, apabila makanan itu milik orang lain yang dilarang oleh syara’, atau menurut dugaan kuat anda, adalah barang haram. Tetapi apabila ada sifat samar antara halal dan haram, dikategorikan syubhat (meragukan) – sisi keraguannya terletak pada apakah ia termasuk haram, yang di sisi lain la tampak seperti objek yang halal.

Adapun meninggalkan dari yang pasti haram adalah suatu keniscayaan wajib hukumnya, dan menahan diri dari yang syubhat adalah wujud dari ketakwaan dan wara’.

Ketahuilah, prinsip bahasan yang pokok dalam kitab mengenai hal ini, yakni ada 2 hal penting; pertama yang berkaitan dengan hukum syara’ dan dimensi eksoteriknya (zhahir). Kedua dimensi ketentuan (hukum) atas dasar sikap wara’  dan penerapannya.

Dalam bahasan ini, menurut syara’, tatkala  anda mengambil sebagian karunia Allah dari seseorang yang pada dasarnya menampilkan sikap kesalehan, maka hindari untuk mempertanyakan – sisi hukumnya – atau anda akan menjadi sasaran kemarahan orang itu, atau kecuali anda yakin pada sisi keharaman pada objek itu.

Adapun dari segi penerapan hukum berdasarkan sikap wara’ , hindari untuk mengambil apa pun itu  dari orang lain, sampai setelah penelitian yang menyeluruh dan mendalam, sehingga anda sampai pada keyakinan tidak ada unsur syubhat dari segi perolehannya saat itu. Jika tidak yakin, tampiklah benda itu.

Jika ada klaim yang menyatakan: dimensi wara’  bertentangan dengan dimensi syara’ dan hukum syariat. Ketahuilah -jawabnya – bahwa sikap wara’ itu terinspirasi pula dari syariat, dua sisi sebenarnya pada dasarnya saling terkait, syara’ memiliki dua peristilahan hukum: hukum [yakni mengonsumsi karunia Allah, penyayang. ] yang bersifat menunjukkan kebolehan (jawaz) dan hukum al-afdhal al-ahwath (yakni hukum keutamaan dan kehati-hatian).

Kita mengatakan suatu yang dibolehkan dengan istilah al-jaiz dalam konteks syara’ , dan istilah afdhal ahwath (prinsip hukum mengambil yang utama dengan sikap lebih hati-hati) adalah dalam konteks sikap wara’ – Dan Allah Maha Tahu.

Adapun tentang batasan menerapkan hukum berlebihan dalam mengonsumsi yang halal (fudhul al-halal): patut diketahui bahwa kategori-kategori (ahwal) yang mubah (dihalalkan) oleh syara’, pada garis besarnya, terdiri dari berbagai bagian di bawah ini.
Bagian pertama, tindakan seorang hamba yang mengonsumsi yang mubah untuk maksud-maksud membanggakan diri (mufakhiran), menumpuk sampai banyak (mukatsiran) sekaligus menerapkan perbuatan riya’, maka perbuatan ini dari segi lahiriah dimensi layak mendapatkan celaan, adapun dari segi amalan batin layak mendapat siksa neraka.Ketentuanya memang seperti itu, karena tujuannya adalah menerapkan perbuatan maksiat, siapapun yang memang berniat untuk melakukan itu, dia termasuk yang mendapatkan ancaman (wa’id).
Kedua, mengambil barang halal hanya untuk memenuhi hasrat dari egonya. – dan tidak ada tujuan lain, — ini akan menjadi alasan kuat bagi hamba untuk mendapatkan siksa, berupa penahanan dan akan dihisab kelak di akhirat.

Ketiga, mengambil barang halal dalam keadaan terdesak dia memerlukan sekadarnya untuk ibadah kepada Tuhannya.  Dia mengambil sebatas keperluannya. Tindakan ini merupakan kebajikan dan cukup etis (menerapkan adab). Dalam hal ini tidak termasuk dalam hitungan dan tidak ada unsur tercela, bahkan dia berhak atas pahala dan pujian. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: