Bermula dari Niat, Belajar dari Ibrahim

Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban tinggal (hanya) menghitung hari. Sebagai seorang muslim keinginan untuk berkurban makin menggebu-gebu di setiap sanubari. Entah apa jadinya jika hikmah di balik seorang ayah dan anak–Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail notabene sebagai seorang anak yang taat dan patuh terhadap ajaranNya dengan tawadhunya ia menerimah perintah dari Yang Maha Pencipta. Bersedia di qurban. Namun karena Allah Maha Mengetahui Segala-galanya maka ia tak jadi di qurban melainkan diganti oleh hewan yang bernama kibas (domba) sebagai pengganti dirinya.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. ” (Ash-Shaaffaat: 102-107)

Melihat peristiwa di atas entah apa jadi jika hal itu benar-benar terjadi. Nabi Ismail dengan niat yang tulus dan diperintahkan oleh Tuhannya untuk bersedia kurban. Tentunya anak manusia di bumi ini tiap tahun akan bertumpah darah. Adanya kurban seorang anak manusia.Itulah bila hal itu terjadi! Dan itu semua belajar dari Ibrahim!

Hal ini jadi mengingatkan saya pada tahun lalu. Yakni, kakak perempuan saya yang berniat ingin berkurban pada waktu itu terhalang oleh suatu hal yang sangat mendesak. Memang kakak perempuan saya sudah berniatan jika nanti ada rezeki ia akan berkurban. Namun entah hendak dikata manusia hanya mampu berencana tapi Allah yang menghendaki yang lain. Akhirnya saat itu kakaka perempuan saya harus mementingkan hal yang mendesak. Yakni, usaha dagangnya lagi merosot. Namun entah kenapa saat uang untuk berqurban di putar kembali untuk menunjang usaha dagangnya yang merosot itu tiba-tiba hal itu tak dilakukan. Uang itu akhirnya bisa jadikan kurban. Dua kambing lagi.

Itu tahun lalu. Entah sekarang saya pun tidak tahu. Tapi saya pun memberanikan diri untuk menanyakan hal itu lagi. Mau berkurban lagi atau tidak? Suata hari saya menyakan hal itu saat sedang berleha-leha di teras depan rumah.

“Tahun sekrang mau berkurban lagi nggak?” tanya saya memulai pembicaraan.

Kakak perempuan saya berdiam diri dulu. Tak menjawab langsung.
Lama. Saya menunggu jawaban dari bibirnya yang agak kehitaman itu untuk mengetahui apakah bersedia untuk berkurban lagi tahun ini atau tidak. Alhamdulillah akhirnya kakak perempuan saya mau membuka suaranya.

“Ya, gimana ya, ” jawabnya ragu.

“Gimana apanya, ” jawab saya lugas.

“Sebentar lagikan Ratna mau nikah bulan Desember ini. Jadi bingung nih. Ada sih niatan untuk berkurban lagi. Ya, doakan aja biar nanti usai resepsi bisa berkurban lagi…, ” ujarnya lirih kepada saya ketika ia memberitahukan apa yang sedang bergejolak di dadanya itu. Di antara dua pilihan masing-masing baik semua. Satu: menikahkan anaknya sebagai orangtua. Dan kerdua: berkurban di Hari Raya Idul Adha dengan mengorbankan hewan kurban (kambing). Halnya seperti tahun lalu. Mengorbankan dua hewan kambing gemuk-gemuk.

“Ya, sudah kalau tahun ini tidak berkurban yan nggak apa-apa. Mudah-mudahan tahun depan bisa. Lagi pula kan mau menikahi si Ratna yang pentingkan sudah niat seperti tahun lalu. ” Kata saya memberikan support untuk kakak perempuan saya itu. Yang tinggal dua minggu lagi akan menikahkan anak perempuannya itu.

Saya yang mendengar penjelasan darinya saya cukup merasakan serta mengetahuinya. Maklum kakak perempuan saya itu tinggal tidak jauh dari rumah saya. Jadi saya tahu betuk apa yang ia gerlisahkan saat itu. Tapi bagaimana pun ia sudah memiliki azzam yang kuat. Untuk berniatan untuk berkurban seperti tabun lalu. Saya sebagai adik kandunganya hanya hisa mendoakan untuk kebaikan kakak peempuan saya itu. Semoga dari dua niatan baiknya itu: Menikahkan anak perempuannya serta (ingin) niat berkiurban lagi bisa terkabulkan oleh Allah SWT. Seperti terkabulnya ia bisa berkurban tahun lalu…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: