Lebih tipis dari sehelai Rambut

Oleh Utari

Tiap perkataan yang tidak ada padanya peringatan kepada Allah itu adalah tidak berfaedah, tiap-tiap diam yang tidak diikuti dengan berfikir itu adalah kelalaian dan setiap pandangan yang tidak dapat memberi pengajaran itu adalah sia-sia’. Naudzubillah….

Begitu banyak perkataan yang tidak berfaedah yang sering kita ucapkan, tak jarang..bahkan acapkali kita membicarakan hal-hal yang tidak berguna bahkan sia-sia. Begitu banyak perkataan kita yang telah menyakiti hati orang lain, memancing permusuhan, bahkan dengan lantang dan bangga melontarkan umpatan-umpatan dan olok-olokan kepada orang lain, yang sama sekali kita tidak tahu mungkin mereka yang kita olok-olokan lebih baik dari kita, justru kitalah yang merendahkan diri kita sendiri dengan olokan-olokan itu. Dengan mudahnya kita mengucapkan sumpah serapah dan janji-janji palsu untuk menutupi aib diri, padahal kita tahu begitu mudahnya Allah membukakan aib kita jika Dia berkehendak, tapi tidak Dia Maha Penyayang kepada semua makhlukNya.

Mengapa?? Mengapa kita tidak menggunakan lisan kita untuk mengucapkan perkataan-perkataan yang baik, yang mengajak kepada kebaikan, mencegah kemunkaran, saling menasehati dalam taqwa, memuji dan mensyukuri keagunganNya.

Kadang kita lebih memilih untuk diam, bukankah yang seperti itu adalah selemah-lemah iman. Bahkan tidak jarang diam kita hanya sekedar diam, diam yang tidak mendoakan, diam yang pasrah kepada keadaan tanpa berusaha mengubahnya. Bukankah itu sia-sia? Begitu tipisnya iman kita, lebih tipis dari sehelai rambut yang dibelah tujuh.

Mungkin pada saat-saat tertentu kita memang perlu diam, diam mengintrospeksi diri, berpikir untuk memperbaikinya, diam merenungi kebesaranNya, berpikir mengungkap hikmah dalam segala kejadian yang tiada kejadian terjadi secara kebetulan melainkan telah direncanakan dan atas izinNya, berpikir mentafakuri kebesarannya di alam semesta, yang kesemuanya itu senantiasa bertasbih menyucikan asmanya dan tak satu pun luput dari pengawasanNya. Ternyata banyak sekali kelalaian yang tidak kita sadari.

Seringkali kita melihat kejadian di sekitar kita, akan tetapi kita tidak bisa dan tidak mau mengambil pelajaran atasnya. Akankah kita biarkan terus menerus, pandangan ini sia-sia? Hanya untuk menatap tanpa sedikitpun pelajaran yang dapat kita ambil, melihat apa saja tanpa filter, sebebas-bebasnya, bukankah jelas tuntunanNya ‘tundukanlah pandanganmu’. Pantaskah pandangan seperti ini memandang wajah Allah di surga sana??

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: