Kabar dari kamung

 Oleh Sabrul Jamil

Dulu, negeri Ulakan dikenal sebagai daerah yang pernah menghasilkan ulama. Mungkin salah satu yang paling terkenal adalah Syekh Burhanudin. Beliau adalah salah satu penyebar agama Islam di ranah Minang. Makam beliau terdapat di Ulakan, salah satu daerah di Pariaman, Sumatera Barat.
Dulu, terasa ada kebanggaan yang terselip setiap kali Ayah menceritakan kisah-kisah Syekh Burhanudin. Juga ada kebanggaan bahwa ulama itu dimakamkan di kampung Ayah. Ayah akan bercerita dengan bangga, dan si Orang Muda pun mendengarkan dengan kagum cerita ayahnya.

Dulu, sejak lama si Orang Muda memahami bahwa bagi orang Minang berlaku kalimat, Adat Bersendi Syara’ dan Syara’ Bersendi Kitabullah. Artinya, sendi-sendi adat di ranah Minang adalah syariat (syara’), dan syariat mengacu kepada Kitab Allah, yaitu AlQuran. Dengan sendirinya sejak kecil ia sudah mengidentikkan antara Minang dengan Islam. Dan seluruh adat yang berlaku di Minang pasti ada referensinya kepada AlQuran. Demikian kesimpulan sederhana si Orang Muda ketika kecil.

Namanya tidaklah semulus itu. Sebagaimana dulu manusia menyangka bahwa bulan itu mulus, namun kemudian baru diketahui bahwa permukaan bulan ternyata penuh dengan jurang-jurang bekas hantaman berbagai benda langit. Demikian pula halnya bergesernya anggapan Si Orang Muda terhadap kampung halaman ayahnya.

Ketika usia belasan tahun, Si Orang Muda pernah mengunjungi tanah kelahiran ayahnya tersebut. Waktu itu Kakek Neneknya – yaitu orang tua dari ayahnya – masih hidup. Dalam kepulangannya kali itupun, yaitu sekitar pertengahan tahun 80-an, ia sudah merasakan nuansa keIslaman yang tipis. Indikatornya sederhana saja. Setiap masuk waktu sholat, Surau (bahasa lain Musholla), hanya diramaikan segelintir orang tua. Jangan tanya ke mana orang-orang mudanya. Keadaan masih lumayan karena setiap Maghrib masih ada anak-anak kecil yang belajar mengaji.

Namun pelajaran mengaji saat itu pun tidak bisa dibandingkan dengan keadaan waktu ayahnya kecil dahulu. Dahulu, setiap anak lelaki, terbiasa bermalam di Surau. Setiap orang lelaki dewasa pun terbiasa menghabiskan waktu Maghrib sampai Isya di Masjid. Bandingkan dengan sekarang, di mana setiap anak lebih terbiasa ‘beritikaf’ di depan pesawat televisi.
Di sisi lain, kemakmuran terlihat jelas di mana-mana. Kita tidak lagi bisa menemukan rumah yang berdinding kayu. Semua rumah sudah berdinding beton. Kendaraan roda dua parkir di setiap halaman rumah.

Salah satu sumber penghasilan penduduk adalah arus kas yang masuk dari para perantauan. Kesuksesan sang anak yang merantau berbanding lurus dengan megahnya rumah orang tuanya di kampung. Sampai di sini, tentu hal itu patut disyukuri. Tak kita temukan fenomena Malin Kundang di kampung ini.

Ketika Ayah si Orang Muda pulang kampung pada awal tahun 2007 ini, keadaan sudah semakin tidak karuan. Ayah si Orang Muda menceritakan pengalaman pulang kampungnya dengan kemarahan tertahan, seperti api yang bersembunyi di balik timbunan sekam.

Beliau bercerita, ada satu ‘tradisi’ baru di kampung jika setiap kali ada acara hajatan. Entah siapa yang membawa, sekarang setiap acara pesta perkawinan atau sekedar sunatan, selalu ada organ tunggal. Sampai di situ mungkin belum jadi masalah. Biasanya tak cukup dengan organ tunggal, acara juga dimeriahkan dengan menggelar panggung pertunjukan. Dan acara favorit di panggung tersebut adalah acara dangdutan.

Para warga berduyun-duyun hadir menonton acara tersebut, bahkan ikut naik ke atas panggung dan bergoyang bersama artis-artis kelas kampung yang dandanannya menabrak adat dan agama sekaligus. Acara ini ‘dinikmati’ seluruh tingkat usia. Dan kelihatannya tak ada keberatan apa pun dari para tetua di sana.

Selain itu, ada juga acara ‘nyawer’. Yaitu suatu pertunjukan dangdut, oleh para artis lokal dengan dandanan seronok. Para penonton berdiri melingkar menyaksikan pertunjukan. Bagi yang berminat boleh ikut masuk ke lingkaran, dengan kewajiban menyelipkan uang di dada si artis tadi.
Dengan geram ayah si Orang Muda berujar, dahulu tidak pernah ada hal-hal seperti ini. Dan tidak terbayangkan jika kelak hal itu akan terjadi. Kegeraman yang bisa dipahami, walau tak banyak berandil bagi penyelesaian masalah.

Bahkan dengan sedih ayah si Orang Muda bercerita bahwa saat ini jamaah sholat Maghrib dan Isya hanya satu dua orang saja. Beliau tidak bercerita apakah pengajian anak-anak masih berlangsung atau tidak.
Mendengar seluruh cerita tadi, ditambah dengan kepingan-kepingan informasi yang ia peroleh sebelumnya, buyarlah segala bayangan indah si Orang Muda tentang kampung halaman nan indah permai. Bayangan tersebut pecah laksana cermin yang terhempas ke lantai. Tak ada lagi bayangan entang anak-anak berbusana rapi, pulang pergi mengaji. Tak ada lagi gambaran pemuda-pemuda tegap yang mengawal syari’at, atau pemudi-pemudi cantik yang dengan anggunnya menutup aurat.

* * * * *
Namun tidak semua cerita ayah bernada minor. Dalam salah satu kunjungan ke Bukit Tinggi, ayah-ibu si Orang Muda sempat bertamu ke rumah orang yang masih menjalankan sunnah dengan setia. Ceritanya, saat dihidangkan makan siang, tuan rumah tidak ikut makan. Dengan santun mereka mempersilakan para tamunya untuk menikmati hidangan, sementara mereka sendiri berpuasa.

Tentu timbul perasaan kurang enak campur kagum kepada orang-orang ini. Sosok mereka seperti seteguk air di tengah tanah yang mengering. Setidaknya, di tengah gulitanya malam yang paling pekat sekalipun, orang masih bisa berharap adanya gemerlap bintang.

* * * * *

Beberapa hari menjelang kepulangan kembali ke Jakarta, gempa menggoyang ranah Minang. Pariaman termasuk daerah yang tidak luput dari gempa, walau tidak termasuk yang paling parah. Dinding dapur rumah ayah si Orang Muda hancur, menimbun benda-benda yang ada di sekitarnya. Untungnya tak ada orang di sekitar tempat itu. Malamnya para penduduk tidur di teras rumah, atau bahkan di tempat terbuka guna mengantisipasi terjadinya gempa susulan. Gempa susulan memang terjadi lagi, walau tidak sekeras sebelumnya.

Jika kejadian ini tidak dimaknai sebagai teguran, dan hanya dianggap sebagai fenomena alam biasa, maka sungguh sudah tidak ada lagi keyakinan akan hak-hak Allah di tanah ini.

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Al-An ‘am: 44)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: