Si Kecil yang Belajar Tabah

Oleh Yudi Randa

“Bang, bangun…Mama sudah siap di mandiin. Dan bentar lagi mau di kafani terus dibawa kekuburan.” Adek perempuanku membangunku dari mimpi. Ah, apa karena aku belum bisa menerima kepergian mama yang begitu cepat sehingga aku tertidur begitu pulas dan sampai memimpikan mama yang mengajakku untuk membeli baju baru. Iya, baju baru sebagai hadiah kenaikan kelas 3 SMP dengan rangking lagi. Mama sudah berjanji kepada anak-anaknya pasti ditepati. Itulah mamaku, yang selalu saja membuatku tersenyum walaupun didikannya terkesan keras kepada anak-anaknya. Diumur masih terlalu muda, setiap anaknya harus bisa mengayomi adik yang paling kecil yang kini berusia dua tahun. Kepergian mamapun sangat mempengaruhi mental sikecil.

Aku bangun dari tidur dengan mata yang masih sembab, setelah semalaman aku menangis tak berhenti. Mungkin karena aku tangis dengan terisak-isak membuat mataku lebih sembab dari biasanya. Aku melihat keadaan yang sama seperti tadi malam, tidak ada yang berubah. Tubuh gemuk ibuku masih saja terbujur kaku dari semalam diruang tengah. Ibu pergi begitu cepat. Aku terus bertanya kepada diri sendiri mengapa ini semua terjadi begitu cepat? Begitu jahatkah aku sehingga semua ini kembali menimpaku. Ayah, desi dan fitra yang berada digendongannya hanya bisa diam disisi jenazah yang sangat dicintai. Sosok sederhana itu kini telah tiada. Ya, ibu telah tiada. Aku kembali membatin. Seolah mengharap sebuah keajaiban yang konyol, aku terus berharap bahwa ini semua hanya kesalahan diagnosa sehingga ibu hanya pingsan sesaat.

”yudi, tolong liatin fitra sebentar. Kasian dia dari tadi tanyain abang terus” seru seorang ibu kepadaku. Aku sendiri tidak tahu siapa ibu itu. Matanya yang sayu menunjukkan usianya yang kini tidak muda. Usianya sudah cukup senja, giginya yang memerah karena kebiasan memakan sirih yang dicampur dengan pinang dan sedikit kapur sirih. Bajunya yang sedikit lusuh menunjukkan bahwa dia sedari semalam tadi terus stay dirumah kecilku.

”iya chek, tapi yudi belum mandi.nggak enak diliat tamu kalau yudi bau gini.” aku menjawab permintaannya. Sembari terus berpikir siapakah sosok yang berdiri didepanku ini. Niat tulusnya untuk terus mengurusi jenazah ibuku membuatku terus bersyukur kepada Allah bahwa setelah kematiannyapun masih begitu banyak orang yang mencintainya.

”nggak usah lagi, lebih baik kamu ambil adikmu lalu kamu hibur dia. Bukannya dia itu Cuma mau sama kamu yud?” dia memintaku dengan setengah memaksa. Benar apa yang dikatakan olehnya, adikku itu sudah sedari berumur 3 bulan bersamaku. Ibu adalah seorang pegawai negeri golongan rendah disalah satu instansi pemerintahan dikota banda aceh. Hal ini membuat ibu tidak bisa penuh menjaga serta merawat anaknya yang paling kecil, sehingga tugas itu dilimpahkan kepada anaknya yang paling tua yaitu aku. Biasanya setelah pulang sekolah aku tak sempat untuk belajar apalagi mengerjakan PR sudah ada tugas rutin menantiku. Yaitu menidurkan, memandikan, dan memberikan makan kepada adikku.

Tanpa banyak basa-basi lagi aku terus berjalan menyusuri kerumunan orang yang semakin padat. Tepat di samping desi, aku minta dia menyerahkan sikecil kepadaku. Tanpa harus dipaksa sikecilpun langsung menyerahkan tangan imutnya dengan wajah yang bingung kepadaku. Mungkin dia bingung, mengapa orang yang selalu bersamanya kini diam tak bergerak. Membatu. Orang yang selalu menghiburnya kini terdiam tidak akan pernah berbicara lagi. Atau saja dia sudah mulai mengerti hal yang seharus tidak dia mengerti jika ditinjau dari umurnya yang masih begitu kecil. Ya, Allah. Inilah adikku sendiri yang masih berumur 2 tahun harus bisa memahami arti hidup dan mati. Matanya yang bulat dan hitam bersih melirik-lirik mencari setiap sudut teman seumuran dengannya. Tidak ada. Tidak ada anak kecil selain dirinya dihari itu. Tidak ada yang tertawa dan menggodanya seperti hari-hari sebelumnya.
*****

Hari itu, seolah komplek kecil itu ikut berduka atas kepergian mama. Suasana layaknya pemakaman yang senyap dan sepi dari tawa anak kecil. Tidak ada burung yang bernyanyi, tidak ada angin yang berhembus, hanya mentari yang tak henti bersinar sedikitpun. Tamu-tamu terus berdatangan silih berganti dan terus bertambah banyak. Hingga akhirnya jenazah ibu siap dibawa kepemakaman yang sebelumnya akan dishalati dimeunasah kompleks. Tatkala sampai di depan pintu rumah, khutbah terakhirpun dikumandangkan oleh Tengkue Imum Gampong. Adik kecilku semakin bingung, melihat isak tangis semakin menjadi-jadi. Lantas dalam kebingungannya itu dia menyandarkan kepalanya yang telah berpikir mengapa semua orang hari itu harus menangis.

”bang, mama mau dibawa ke mana bang? Kok pake kotak?” tiba-tiba mulut mungil itu bertanya kepadaku.
”mama, mau dibawa kekuburan untuk dikuburin deket dengan kakek adek juga.” aku menjawab sembari menahan tangis. Aku tak boleh nangis didepannya. Aku sendiri yang mengajarkan kepadanya agar tidak cengeng dan jangan terus menerus menyesali nasib. Akulah kakak tertuanya dan aku juga yang harus bisa mengantikan posisi ibuku. Ya, aku harus bisa dan dimulai saat ini juga. Itulah azzamku saat itu, azzam yang diucapkan oleh seorang anak laki-laki yang masih berusia 13 tahun. Anak laki-laki yang masih kolot yang tidak mengerti apa-apa sudah berani berazzam menjadi pengganti posisi seorang ibu bagi adik-adiknya.

”emangnya kenapa mama harus dibawa kekuburan bang?”

”mama sudah dipanggil allah dek, jadi mama harus dikuburkan biar bisa ketemu allah” Ya Allah, aku terus menahan sesak didada ini saat wajah lugu itu terus bertanya perihal ibunya. Apakah begitu kejamnya takdir sehingga anak sekecil ini harus merelakan ibunya pergi keharibaanMU?

”jadi mama mau dikubur dan mau ketemu Allah ya bang?” mulut kecil itu terus membuat mataku berlinangan air mata. Tak kuasa aku melihat mata polos itu bertanya mencari tahu ke mana ibunya akan dibawa pergi.

”mama sudah meninggal dek, jadi mama harus dibawa kekuburan. Allah sayang ama mama makanya Allah panggil mama”. Aku sudah tak sanggup lagi menahan tangis, tak terasa air mataku terus mengalir dipipiku. Sesekali mengenai wajah adikku yang putih bersih. Dan sesekali pula ia menghapus dengan tangan kecilnya. Seolah berkata kepadaku ”jangan nangis abang, allah sayang sama mama.”

”dadah mama!”. mulut kecil itu kembali bersuara lugu sembari melambaikan tangannya kepada peti jenazah yang berisi ibunya dan juga ibuku didalamnya. Lihatlah, anak sekecil itu sudah bisa ikhlas menerima takdirMU ya Rabbi. Lihatlah, anak sekecil itu sudah mengerti indahnya cinta sehingga tak usah ada air mata saat cinta itu bersemi untuk selamanya.

”adek sayang mama”. Mulut kecilnya kembali berucap kata. Sehingga kali ini aku benar-benar tak sanggup menahan tangis. Tangisku meledak di dalam hati. Hatiku begitu miris melihat ketegarannya. Yang suatu hari nanti dia menjadi jauh lebih hebat daripada aku. Dia jauh lebih tegar tatkala menghadapi ibu tirinya nantinya. Dalam hati aku hanya bisa berharap agar Allah memberikan yang terbaik bagi adik kecilku ini.

******
Tanpa sadar aku terbangun dari mimpiku dan lagi-lagi mimpi itu menghampiriku. Seolah tak mau menjauh dariku sedikitpun. Dan ternyata aku tertidur dengan kesedihan yang sangat menyiksa tatkala siang dikota jakarta. Siang yang panas menyengat, yang seharusnya nikmat bersama es cendol. Kini kembali aku melamun kejadian hari itu 27 maret 1999.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: