Cahaya Subuh

Oleh Galih Ari Permana

Suara adzan subuh menggema keseluruh penjuru alam, seruannya terbawa hembusan angin pagi untuk mengetuk pintu-pintu setiap hamba agar memulai pagi ini dengan bersujud kepada-Nya. Tiada yang lebih menyenangkan selain dapat mengawali hari dengan shalat subuh berjama’ah. Sungguh besar manfaat yang bisa diperoleh dari shalat subuh berjama’ah. Dalam suatu hadits yang shahih Rasulullah pernah bersabda, ”Barangsiapa yang shalat subuh berjama’ah maka ia bagaikan shalat sepanjang malam, ” itu dari segi pahala. Untuk kesehatan, kita bisa menghirup udara yang benar-benar bersih yang sangat sulit didapat di wilayah jabotabek, lumayan untuk membersihkan paru-paru. Seperti biasa aku sudah bersiap-siap mendatangi panggilan menuju kemenangan itu. Sungguh syukur aku panjatkan kepada-Nya atas anugerah hidayah ini, hidayah berupa kesempatan untuk dapat menjawab segala seruan-Mu. Kebiasaan shalat shubuh berjama’ah mampu aku pertahankan sampai sekarang, sungguh karunia yang patut disyukuri. Bukan hal yang mudah, tapi tidak juga dianggap sulit membiasakan bangun pada waktu subuh, hanya diperlukan komitmen yang kuat dan sedikit usaha maka kebiasaan itu akan terbangun. Yang sulit adalah membangun komitmennya ini, butuh perjuangan. Kakiku melangkah menuju masjid yang tidak jauh dari rumahku, hanya beda satu blok saja. Lagi-lagi aku beruntung rumahku tidak jauh dari masjid, dan memang sudah menjadi impianku untuk bisa tinggal di sebuah rumah yang letaknya harus berdekatan dengan masjid, dan Allah mengabulkan mimpi itu. Derap langkah kakiku terus menyusuri jalan yang penuh dengan hamparan rahmat, setiap aku langkahkan kaki kananku maka diangkatlah aku satu derajat. Ketika kaki kiriku bergantian melangkah, terhapuslah satu dosaku. Suara binatang malam yang sayup-sayup terdengar menjadi saksi atas setiap langkahku di akhirat kelak, semoga. Semakin dekat aku dengan tempat yang paling mulia di muka bumi ini. Mulai terlihat semakin jelas plang nama masjid yang baru saja dibuat. Masjid Al-Kautsar, ya itulah nama masjidnya. Bangunan yang baru 80% jadi sehingga di beberapa tempat masih telihat pekerjaan bangunan masjid yang belum selesai. Masjid ini sudah berjalan tiga tahun pembangunannya, meskipun tersendat-sendat kami bersyukur proses pembangunannya sudah hampir selesai. Ba’da shakat sunnah, iqamat pun dikumdangkan tanda shalat subuh akan segera dimulai. Dua shaf terbentuk, membentuk garis lurus selurus qalbu-qalbu mereka. Suara takbir menggema tanda imam sudah memulai shalat subuh dan mutiara-mutiara rahmat pun mulai bercucuran membasahi jiwa-jiwa pencari Tuhan. Terlihat memang hanya dua shaft, namun seandainya mata lahir ini mampu melihat akan terlihat barisan para malaikat pada shaf ketiga hingga shaf terakhir masjid, yang ikut serta mengamini setiap lafadz-lafadz doa yang terucap. Subuh ini yang menjadi imam adalah Pak Kholis, pria yang berumur empat puluh tahunan itu memang kerap menjadi imam dalam setiap shalat wajib. Hal itu dikarenakan hafalan qurannya yang paling banyak, kalau aku perhatikan juz 28 – juz 30 sudah ada diluar kepalanya. Pak Kholis yang janggutnya tidak kalah panjang dengan janggut yang dimiliki Pak Pur ini terkenal dengan As Sudaisnya Al-Kautsar. As Sudais adalah nama imam Masjidil Haram di Mekah, yang qira’ahnya terkenal paling merdu seantero jagad dan banyak para imam yang menirukan logat qira’ahnya. Bagi mereka yang pernah naik haji tentu pernah merasakan bermakmum di belakang imam As Sudais dan mersakan betapa merdu dan indahnya setiap ayat yang dikumandangkannya, menyentuh dan masuk hingga ke relung-relung hati bahkan bisa melahirkan butiran air mata. Dalam mengimami shalat subuh, Pak Kholis senang sekali membacakan surat Ash Shaff, surat ke-61 pada juz 28. Surat ini memang memiliki makna yang cukup dalam, didalamnya begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik. Sang imam sering kali mengulangi bacaannya apabila telah mencapai ayat kesepuluh, yang berbunyi, ” Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?” Sungguh ayat yang mampu menggetarkan setiap insan yang mendengarnya, yang dapat menimbulkan sejuta tanya pada diri akan perniagaan apakah yang saat ini kita lakukan. Beberepa makmum mulai terdengar suara isak begitu ayat ini diulang dua kali. Suasana pun hening penuh khusyuk di bawah guyuran kalam Ilahi. Sekitar delapan menit shalat subuh pun selesai dilaksanakan, cukup sebentar. Delapan menit yang tidak mampu dilewati oleh jutaan muslim yang asyik terlelap berselimutkan kulit nafsu yang setan kenakan disekujur tubuhnya. Diri mereka terlalu lelah setelah tiga jam menemani Piala Champion yang sudah mulai bergulir dan ditayangkan oleh salah satu televisi swasta nasional. Yang lebih aneh lagi para petugas ronda yang mendapat giliran mengamankan lingkungan semalam suntuk, namun begitu masuk waktu subuh mereka membubarkan diri tanpa menyahut sedikitpun seruan adzan yang dikumandangkan. Mereka memang berjasa mengamankan lingkungan, namun bagaimana dengan keamanan mereka di akhirat kelak. Cahaya terpancar dari rumah Allah yang mulia itu. Pancaran cahaya yang berasal dari kekhusyuan yang tercipta dari para pencari Tuhan. Pancaran cahayanya mengalahkan gemerlap kelap-kelip bintang yang masih sangat jelas terlihat di cakrawala yang membentang. “Ya Rabb terimalah sujud kami di pagi ini, jadikanlah pembuka pintu rahmat-Mu dan berilah kami kekuatan untuk melakukan yang terbaik pada hari ini.” Tambun, 7 Februari 2008

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: