Kerikil Kehidupan

Tujuh belas september dua ribu tujuh awal mula bisnis kecil-kecilan keluarga saya, bermula dari tetangga saya yang mengisi kue-kue basah diwarung-warung sayur pagi pulang kampung. Ternyata istri saya mau mengantikan posisi tetangga itu untuk menyuplay kue-kue basah seperti kue kukus, Gorengan dari singkong, dan susu kedelai istri saya membuatnya. Ternyata antusias pembeli dan pesanan tidak sedikit jika dibanding dengan pertama pada saat tetangga yang mengisi kue-kue itu. Pertamanya hanya satu warung yang disuplai istri saya, berkat informasi dan kejasama ibu-ibu diperumahan sekarang sudah ada tiga warung yang mau disuplay atau dititipi jajanan kering dan basah. Setelah berjalan dua mingguan saya juga tertarik untuk mencoba bisnis gorengan di dalam pabrik dengan cara menawarkan jajanan pada waktu istirahat. Pertama hanya satu macam dan hanya membawa tiga puluh pis. dan sekarang bisa membawa empat macam dan bisa habis delapan puluh pis. Hasilnya lumayan bisa buat jajan sehari-hari anak yang sekarang sudah tahu jajan. Baru saja saya dan istri bisa menyisihkan hasil dari berjualan dan mau menyusun rencana untuk melunasi hutang yang kami pinjam dari Paman untuk Oprasi tumor Ibu ada lagi kerikil yang menghadang kami. Sembilan Belas Februari dua ribu delapan saya mendapat Surat mutasi dari pekerjaan saya., dimana tempat tujuan mutasi tidak mungkin menjalankan bisnis saya yang sudah berjalan selama ini, karena ditempat baru nanti kebanyakan laki-laki dan juga tidak ada kerja malamnya. Padahal bisnis selama ini saya jalankan hanya bisa malam hari dan pembelinya biasanya kaum wanita. Terlepas dari rumor yang beredar mengenai mutasi saya ini karena orang ketiga yang tidak suka posisi saya sebelumnya yang selalu menentang kebijakan yang tidak-tidak. Istri saya cukup tenang dibanding saya. Pertamanya justru saya menghawatirkan bisnis kecil istrisaya yang dengan kondisi ini bisa tersendat. Dia malah sebaliknya yang menyuruh saya sabar untuk menghadapi pekerjaan baru ini. Dan dia bilang Rizki Alloh bukan hanya lewat jalan berjualan di tempat kerja saya saja, asal kita mau berusaha disitulah ada rizki. Entah apakah ini merupakan teguran ataukah Ujian bagi keluarga kami.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: