Pelajaran dari Sebuah Kematian

Allah telah mengingatkanku pada hari ini. Sungguh aku merasa bersyukur atas kasih sayang yang selalu Dia tunjukkan kepada diriku. Sebuah kejadian yang selalu menjadi pelajaran bagi diriku untuk selalu terus berusaha menjadi hamba-Nya yang baik.

Aku mendengar berita duka itu menjelang jam pulang kantor, sekitar pukul setengah lima sore. “Galih, ayahnya Pak Andi meninggal, mau ikut takziah?” Demikian sebuah informasi disampaikan oleh teman kantorku sembari bertanya kepada diriku apakah akan ikut serta bertakziah. Aku pun mengiyakan ajakan bertakziah tersebut mengingat Pak Andi adalah teman satu section dengan diriku. Bukankah bertakziah merupakan salah satu hak saudara seiman.

Hari jumat, musibah ini pun kembali membawaku ke masa dua tahun yang silam, di mana pada hari jumat ini pula ayahku dipanggil oleh yang Kuasa. Suatu kejadian yang tidak pernah aku duga sebelumnya, ia datang dengan tiba-tiba tanpa ada kabar sebelumnya. Aku terduduk sejenak untuk mengatur nafas yang sedikit sesak sembari megingat kejadian dua tahun silam itu. Aku merasakan sekali apa yang sedang dirasakan oleh Pak Andi dan ini fitrah manusia.

Sekitar pukul setengah enam sore kami pun berangkat menuju rumah duka di daerah Pondok Gede. Aku memperikirakan bahwa perjalanan akan melewati waktu maghrib dan kemungkinan pukul setengah tujuh baru sampai di rumah duka. Benar saja, ketika mobil yang aku tumpangi hendak keluar pintu tol Pondok Gede adzan maghrib pun berkumandang. Suara muadzin pun berkumandang saling bersahutan antara masjid yang satu dengan yang lainnya. Panggilan muadzin pun mengetuk hatiku, memanggil jiwa yang lemah ini untuk segera bersujud. Namun aku tidak bisa menyambut penggilan tersebut dengan segera, mengingat waktu itu aku sedang berada di antara kepadatan kendaraan yang hendak keluar pintu tol. Aku memutuskan untuk shalat maghrib di tempat Pak Andi nanti.

Alhamdulillah perjalanan pun dapat ditempuh dengan lancar. Sekitar pukul setengah tujuh rombongan kantor tiba di rumah duka. Aku melihat sebuah tenda sedang dipasang di depan rumah duka tersebut. Aku kemudian masuk untuk menemui Pak Andi. Di depan pintu rumah rupanya Pak Andi sudah berdiri menyambut rombongan kantor. Aku tidak lupa untuk menyalami beliau sambil mengucapkan rasa belasungkawa. Hanya ucapan turut berduka yang aku sampaikan kepada Pak Andi, tidak lebih. Selebihnya aku hanya memandang sesosok tubuh yang terbujur kaku di atas sebuah ranjang. Tubuhnya tertutup oleh beberapa helai kain.

Aku terus memperhatikan sosok jenazah tersebut, aku perhatikan dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki. Batinku mulai mengajakku berbicara, “Lihatlah sosok menusia itu, terbujur kaku. Inilah akhir dari perjalanan hidup seorang manusia. Kini dia akan segera menghadap Sang Pencipta untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuat selama hidupnya. Bagaimana dengan kamu, Galih? Kamu pun akan seperti itu, segera, dan akan tiba giliranmu.”

Aku berdiri dalam diam, mencoba merenungi apa yang dibicarakan oleh batinku. Ya, aku akan seperti itu, segera. Aku tidak tahu apakah aku siap menghadapinya.

Sayup-sayup aku mendengar percakapan atasanku dengan Pak Andi. Dari situ aku mendengar bahwa kematian ayah Pak Andi terjadi dengan tiba-tiba, malah ia sempat melaksanakan shalat jumat. Percakapan itu kembali membuat diriku semakin diam, semakin dihantui rasa takut. Takut akan akhir hayat yang tidak bisa aku duga sedang apa aku ketika ajal menjemput. Suatu akhir yang sangat tidak bisa diramalkan oleh siapapun.

Akhirnya aku keluar dari rumah duka tersebut karena mengingat aku belum melaksanakan shalat maghrib. Aku pun bergegas menuju masjid yang tidak jauh letaknya dari rumah duka tersebut. Bersama tiga orang teman, kami pun melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Dalam sujudku aku berdoa semoga Allah memberikanku akhir yang baik.

Aku teringat dengan sebuah hadits yang menerangkan bahwa manusia itu tergantung akhirnya. Setiap aku bertakziah aku selalu bertanya pada diri sedang apakah aku ketika ajal datang? Sedang dalam ketaatan ataukah sedang bermaksiat? Ya, Allah, aku benar-benar takut, takut akan akhir yang buruk.

Namun, ada hal yang sering membuatku heran dalam setiap bertakziah. Aku sering melihat para pentakziah tertawa dan bercanda di sana satu sama lain. Seolah kematian seseorang merupakan acara komedi yang dapat mengundang sejuta tawa. Ataukah mereka adalah sekelompok orang yang sudah siap dengan segudang amal sehingga tidak terlihat sedikitpun wajah duka? Bukankah Rasulullah pernah mengingatkan para sahabatnya bahwa seandainya menusia itu tahu dasyatnya hari akhir kelak, tentu manusia akan lebih banyak menangis dan sedikit tertawa.

Sekitar pukul delapan akhirnya rombongan kantor berpamitan. Dalam perjalanan pulang kembali aku merenungi diri ini. Akan seperti apa aku ketika ajal menjemput? Apakah sedang berada dalam ketaatan ataukah sedang bermaksiat kepada Allah?

Tambun 14 Maret 2008

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: