Kesabaran

Tanggal 5 sore, selepas pulang kerja saya mendengarkan radio dengan tema merencanakan anak sejak dini, dari mulai didalam kandungan sampai lahir kedunia ini. Pada waktu itu ada yang bertanya mengenai penyebab ketidak sempurnaan fisik pada saat lahir kedunia ini, apakah itu factor keturunan ataukah ada factor yang lain.

Pada saat itu Istri saya memberikan saya hasil test kehamilan, pertamanya saya kurang begitu faham apa maksud istri saya itu. Setelah dia menjelaskan bahwa dia positif mengandung anak kedua kami. sesaat saya tertegun dan diam entah apa yang saya akan ucapkan, kemudian saya mencium kening istri dan berucap “selamat yach, mohon jaga anak kedua kita”

Sudah seminggu berlalu setelah kejadian itu, istri saya setiap hari meminta dibawakan makana yang tidak biasa diminta sehari-hari. Pertama dia minta goreng burung yang biasa ada pada malam hari di lesehan-lesehan pecel itu. Kemudian paginya dia minta serabi putih. Setelah saya telpon ke temen-temen untuk cari informasi penjual serabi itu ternyata tidak ada, kalau pun ada itu sorehari. Tak berfikir panjang pagi itu juga saya telpon orang tua di subang, agar mereka mebelikan pesanan itu. Kira-kira jam 8 saya pulang ke subang, kebetulan saya juga ada keperluan untuk bayar pajak kendaraan.

Setibanya disana saya telepon istri untuk memberi kabar bahwa saya sudah sampai dirumah. Dan dia berpesan untuk belikan kerupuk yang digoreng pakai pasir yang biasa ada dijalan-jalan dan kelapa muda yang masih utuh.

Saya rasa ini tidak terjadi pada kehamilan anak pertama kami. Apakah ini merupakan ujian bagi saya yang sedang dirundung masalah ditempat kerja dan masalah keuangan, ataukah hanya sekedar kebetulan saja. Sedangkan kemarin sore kami kebidan untuk memeriksa usia kehamilan ke bidan terdekat diperumahan. Saya berani bertanya pada bidan mengenai permintaan-permintaan dan muntah-muntah yang sayasering lihat tiap hari. Kata bidan ini masih berlanjut sekurang-kurangnya sampai akhir bulan ini.Mudah-mudahan saya bisa sabar dan tabah untuk menghadapi dan menjalankan pekerjaan rumah juga mengurus si kecil anak pertama kami yang masih berusia 3 tahun. Karena kondisi istri saya masih lemas dan hanya bisa tidur dan duduk, kerjapun tidak bisa tuntas. Apalagi kalau datang rasa mual-mualnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: