Ekonomi Kecil….!

Terkadang hati ini merasa sakit jika melihat orang-orang sampai membelanjakan uangnya sampai ratusan ribu di minimarket atau supermarket. Padahal mungkin dilingkungannya terdapat warung kecil yang sepi dan mengharapkan tetangga sekitar sebagai pelanggannya. Bukannya tidak boleh kita belanja ke minimarket atau supermarket, tapi coba kita fikir. Masih teringat kita pada masa kampanye, mereka mengelu-elukan dan menjanjikan ekonomi kerakyatan. Tapi coba kita lihat kasus diatas, hanya dengan alasan lebih murah 200 sampai 600 rupiah kita lebih berbelanja ketempat-tempat yang berbau swalayan. Mereka berfikir dengan selisih yang tidak seberapa itu akan untung dan membuat mereka kaya. Tapi mereka tidak berfikir kalau membelanjakan uangnya itu ke warung yang terletak disekitarnya dengan tidak langsung dan tidak sadar kita membantu perekonomian tetangga kita dan mempererat tali silaturahmi denga tetangga itu sendiri yang sudah jelas kita ketahui asal usulnya. Coba kita berbelanja ke swalayan walaupun kita diuntungkan dengan selisih harga yang sedikit tapi mereka lebih untung lagi dan secara langsung menguntungkan orang yang sudah jelas mampu. Lihat saja siapa yang punya swalayan itu, bukankah mereka itu orang-orang menengah keatas?
Saya mulai bulan ini memulai bisnis kecil-kecilan, yaitu mencoba bisnis Online yaitu melayani pembayaran listrik, Telpon dan Voucer isi ulang semua operator GSM dan CDMA. Pengalaman diatas itu saya rasakan sendiri betapa sakit hati jika orang memilih bertransaksi dengan orang lain yang biaya administrasinya sebesar 1600 dan di saya sebesar 2500, karena perbedaan 900 rupiah dibanding dengan bertansaksi ditempat saya.mereka adalah teman sendiri. Yang lebih menyakitkan lagi itu adalah terucap dimulut teman dekat saya sendiri. Padahal apalah artinya uang 900 rupiah itu untuk dirinya dan bagi saya keuntunga 900 rupiah itu sangatlah berarti. Padahal transaksi itu dilakukan hanya satu bulan sekali. Mereka berfikir jika bertaransaksi di yang 1600 itu akan menguntungkan dirinya.
Jika orang-orang masih berfikiran seperti ini jangan harap ekonomi kerakyatan akan terwujud di bumi Indonesia ini. Saya sudah bekerja di perusahaan asing selama hamper 10 tahun. Yang penanam modalnya orang Korea. Cerita pertama Pada suatu saat stock obeng dan koas kecil habis kiriman dari korea belum juga datang. Watu itu ada yang mengusulkan beli saja di Glodok obeng seperti itu juga ada di sana. Walau tidak sama persis yang penting fungsinya sama. Spontan orang korea itu menjawab “Jika saya beli di sini nanti orang korea mau makan apa?” mendengar jawaban itu awalnya saya tidak mengerti. Lama-lama saya baru sadar jika mereka membeli prodak dari luar Negara dia maka prodaknya dia siapa yang mau beli dengan tidak adanya yang beli prodaknya maka berapa ribu orang disana tidak bekerja alias pengangguran. Yang kedua semenjak saya bekerja diperusahaan ini oertengahan tahun 2002 sampai 2008 direkturnya masih memakai HP Samsung yang type lawas dan masih monocrom. Saya heran kenapa setingkat direktur tidak bisa beli HP yang bagus dan banyak fasilitasnya. Padahal operator line HPnya yang ada Bluetothnya, ada MP3nya ada Cameranya. Itulah gambaran orang-orang kita mengutamakan gaya dan gengsi sehingga asas manfaat dan fungsi tidak difikirkan.
Kalau difikir-fikir Indonesia hamper 40-50% memiliki HP tapi kenapa tidak ada orang-orang besar berinisiatif mendirikan pabrik HP…!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: