Yang diberikan adalah milik kita yang Abadi

Malam minggu kemarin orang tua saya datang setelah mengetahui saya di infuse karena dehidrasi akibat Muntahber dari malam jumat. Biasa untuk melepas rindu dan kangen saya dan Bapak terlibat perbincangan. Pertamanya masih bercerita tentang adik saya (sibontot) yang sudah kepingin Nikah dan berencana setelah pemilu ini akan mengadakan acara tunangan, tapi terbentur masalah biaya. Kemudian giliran saya saya yang mengutarakan keinginan untuk membuka usaha kecil-kecilan yaitu bisnis online, yaitu menerima pembayaran PLN, Telkom dan Isi ulang Voucer GSM dan CDMA (Alhamdulillah mulai tanggal 5 sudah louncing)

Setelah saya selesai mengutarakan maksud dan rencana Giliran bapak saya yang memberikan wejangan dan nasihat, ini biasa bapak saya lakukan jika berkumpul bersama anak-anak dan menantu-menantunya. Selalu memberikan nasihat kepada kami. Propesi Bapak saya saat ini adalah pedagang Ketupat tahu dan Ketupat sayur yang daerah jajakannya di salah satu pangkalan udara atau komplek Angkatan Udara suryadarma Kalijati. Waktu masih sekolah di STM saya sering berjualan ES tung-tung (semacam Es krim yang pakai corong). Bapak saya selalu berpesan “jika ada anak menangis karena mau Es dan orang tuanya tidak memberi uang untuk membelinya maka kasih saja tapi tanpa sepengetahuan orang tuanya, karena takut menyinggung perasaannya, Jika ada orang membeli tapi tidak ada kembaliannya jangan bersusah payah kita mencari tukarannya, berikan saja dan bilang, uangnya lain kali saja”. Ketahulah yang seperti itu adalah milik kita yang sebenarnya. Keuntungan yang kita dapat saat ini bukanya milik kita semuanya, karena keuntunag itu bias saja ada untuk rumah sakit, ada hak-hak orang lain.

Saat ini juga bapak saya sering melakukan hal yang sama dalam berjualannya. Jika ada orang yang sering beli atau berlangganan membli banyak maka selalu dilebihkan bungkusannya, dan jika orang bertannya ini lebih bungkusannya bapak saya menjawab singkat “yang satu untuk sipulan” tapi dalam hati dia berkat “yang satu untuk tabungan saya di kehidupan kelak” dan bapak saya jarang membawa pulang sisaan dagangannya pulang kerumah, dia selalu memberikan sisaan dagangannya kepada orang-orang yang perlu dan membutuhkan sepanjang jalan pulang. Seperti orang yang berkerja diladang, keluarga yang kekurangan.

Ada satu pelajaran yang berharga bagi saya. Bapak bilang “dulu waktu dilahirkan dari rahim ibu kealam dunia ini kita menangis dan disambut dengan rasa suka cita dan bangga oleh keluarga dan kerabat. Padahal waktu itu mereka tidak tahu apa arti tangisan kita, apakah tangisan kita itu bahagia karena lahir ke dunia apa tangisan sedih karena kita berpisah dengan pelukan yang maha kuasa, kelak diakhir hayat kita, untuk kepelukan Alloh SWT seluruh keluarga, kerabat, teman menangis karena kehilangan. Tapi mereka tidak sadar dan tidak tahu apakah yang ditangisi itu juga bersedih meninggalkan mereka atau malah bahagia karena akan kembali kepada sang Kholik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: