Curhat

Tak terasa air mata berlinang, menetis dipangkuan pada saat membayangkan kajadian tadi siang dipekerjaan. Pada saat sholat tarwih pun saya teringat dan terbayang kejadian itu. Hamper setiap rokaat terlintas kejadian itu. Sebelum break siang kira-kira jam 11.00 saya bertemu dengan Manager HRD di produksi. Pada saat dipintu keluar ruangan produksi dia menyuruh saya keruangan meeting, saya fikir dia mau membahas surat yang tadi pagi saya berikan. Yaitu tentang bingkisan lebaran dan pembagian THR serta uang konfensasi bagi yang bekerja pada saat hari libur lebaran. Ini biasa kami lakukan setiap lebaran menjelang. Teryata dugaan saya meleset 180º. Pertama dia menanyakan kendala saya menjadi Purchasing sekarang-sekarang ini. Dia mendengar bahwa sering bermasalah dengan hasil kerja saya semenjak di Purchasing. Kemudian saya jelaskan kendala-kendala yang saya anggap menjadi penyebab hasil kerja saya dianggap buruk oleh atasan saya terutama oleh expatriate. Yang paling mendasar adalah antara pembuatan PO dan duedate terlalu sempit. Kemudian sering berubahnya planning produksi dengan PO.
Kemudian dia memberikan kepada saya tiga buah lembar kertas yang diambilnya dari dalam amplop, dua lembar dia berikan kepada saya yaitu history kenapa bisa terlahirnya Surat Peringatan. Tidak tanggung-tanggung langsung surat peringatan dua saya terima. Saya menanyakan kenapa harus langsung dua, dia menjawab justru orang expatriat maunya saya langsung surat peringatan tiga. Kemudian saya membaca sekilas historynya. Disitu tertulis bahwa saya sudah membuat produksi stop dan menyebabkan kerugian perusahaan sebesar 4juta koma. Yang saya tidak habis fikir dia bilang bahwa kejadian itu atasan saya (orang Indonesia) tidak tahu. Dan lebih menyakitkan lagi dia bilang bahwa saya tidak pernah melapor ke atasan saya jika ada masalah, saya selalu meng bypass ke orang expatriate.
Tapi sudahlah nasi sudah menjadi bubur, saya tidak mau permasalah ini menjadikan hubungan saya dengan atasan (orang Indonesia) menjadi renggang. Saya berfikir dari pada saya memutuskan silaturahmi dengan sebangsa sendiri lebih baik saya tidak di sukai oleh orang expatriate. Toh saya berhubungan mungkin pada saat saya bekerja disini saja, dan jika saya pindah perusahaan saya tidak lagi menjadi bawahannya mereka. Tapi jika saya memilih membesar-besarkan masalah ini dengan orang kita, mungkin sampai akhir hayat kita masih ada kemungkinan kita bertemu dan bahkan bisa lebih dekat lagi. Bukan sekedar hubungan atasan dan bawahan.
Jika melihat anak-anak saya yang masih kecil-kecil tumbuhlah rasa perjuangan supaya saya mampu menghadapi semua ini. Saya tidak mau mereka tahu permasalahan bapaknya di tempat kerjanya, biarlah saya saja yang menghadapi, bahkan saya tidak mau istri saya pun tahu betapa beratnya permaslahan saya saat ini dengan pekerjaan sekarang ini. Saya yakin bahwa “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” itu janji Alloh dalam QS Alam Nasroh ayat 5 dan 6.
Mungkin orang expatriate sengaja untuk memberi beban lebih kepada saya dengan pekerjaan yang tidak saya sanggup. Dengan bigitu merekan dengan mudah mengeluarkan saya dari perusahaanya tanpa memberikan banyak-banyak konvensasi. Karena sudah satu tahun lebih saya sebaga kepala serikat pekerja yang dianggap batu sandungan oleh perusahaan. Tapi itulah namanya perjuangan, jangan takut untuk membela hak-hak yang tertindas. Saya teringat omongan orang disnaker (Pak Otang) sesungguhnya pekerjaan menjadi pengurus serikat diibaratkan seperti pegawai akhirat, bagai mana tidak, jika kita sukses kita tidak mendapat pujian, tapi sebaliknya jika kita gagal dalam membela aspirasi mereka, caci maki kita terima. Saya percaya Alloh maha Adil.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: