Rezeki yang Halal tidak pernah Habis

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pagi kemarin saya pergi ke puskemas untuk memeriksa gigi, sengaja dari rumah lebih awal karena pendaftaran untuk pasien gigi sangat banyak dan dibatasi hanya 25 orang perhari. walau pun berangkat pagi dan tiba di puskesmas jam 7.10 WIB tetap saja saya mendapatkan no urut 20, tapi syukurlah masih bisa masuk daftar antri hari itu juga. Pada saat antri untuk menunggu di daftar ulang oleh petugas puskesmas, mata saya tertuju kepada sesosok ibu yang masih terhitung muda kira-kira usia 25-30 tahunan dan membawa anak kira-kira umurnya belum genap satu tahun, memang pakaian si ibu muda itu rada-rada kusam dan lusuh.

si ibu muda itu terlibat pembicaraan dengan seorang perempuan paruh baya yang mengantar cucunya berobat. pada saat itu saya kaget mendengar pengakuan si ibu muda itu tentang anak yang di gendongnya ternyata anak yang ke lima. bukan hanya saya yang mendengar dan kaget, si ibu dan sampingnya juga ikut kaget. memang tidak di KB bu, kata si ibu paru baya itu. saya pernah di KB tetapi keluar darah terus katanya, jadi jarak anak saya hanya selisih 1-1,5 tahun kata si ibu muda.

Pernah pada saat lahir anak yang kelima ini ada yang datang bawa mobil sedan yang bermaksud membeli atau menjadi anak asuh, dan membiayai semua pengobatan di klinik tempat dia melahirkan. Tetapi dia tidak memberikannya. pada saat itu dia bilang “walaupun saya serba kekurangan tetapi saya tidak akan menjual anak sendiri, memangnya ayam bisa dijual belikan, sekarang memang susah tetapi 10-15 tahun siapa tahu anak-anaknyalah yang mengaangkat derajat kami. Mendengar itu saya merasa miris dan rendah dalam urusan seperti itu, Saya baru dikasih dua putri dan 1 anak yatim saja terkadang sering mengeluh. padahal setiap bulan saya sudah tentu ada uang dari gaji walaupun hanya cukup untuk makan dan tempat tinggal.

setelah registrasi saya menunggu di warung untuk sekedar minum dan cari suasana baru. Pada saat saya duduk datang seorang laki-laki usia kira-kira 50 tahunan duduk di samping saya. Karena saya lebih muda maka saya merasa berkewajiban membuka pembicaraan. Ternyata dia adalah seorang Nasrani dan sebagai pastur di gerejanya. banyak hikmah yang di petik dari cerita kehidupannya. Padahal dia tidak memiliki penghasilan tetap tetapi ada saja rezeki yang menghampiri. Yang saya petik perkataan dia adalah Rezeki yang hak tidak akan pernah habis sampai kita meninggal. yang penting kita berbuat baik kepada sesama pasti rezeki itu akan ada di dekat kita. Yang membuat Rezeki kita susah karena kita makan bukan dari hak kita.

Mungkin kita tidak sadar terhadap kejadian atau pemberitaan sekitar kita. ada sebersit pertanyaan yang selalu menjadi pemikiran, mungkin kita ingat akan pemberitaan di TV sebuah keluarga memiliki 18 anak, toh mereka masih bisa makan dan bersekolah. tidak jauh berbeda dengan orangtua-orangtua kita yang memiliki lebih dari 5 anak, mereka sanggup memberi makan dan pendidikan sampai level menengah atas bahkan sampai bangku kuliah. Coba kita bandingkan dengan kehidupan sekarang, tidak sedikit dari kita untuk menunda kehamilan karena karier dan takut tidak bisa memberi makan. terkadang kita baru memiliki satu atau dua anak saja merasa kewalahan untuk membiyayainya. coba kita renungkan apa bedanya dengan zaman sebelum kita, yang paling dominan adalah “dari mana uang yang kita dapat untuk memberi makan keluarga dirumah” Halal kah gaji kita setiap bulan ini? tanpa kita sadari, pada saat jam kerja kita sering mencuri waktu untuk hal-hal yang bukan jobnya, atau untuk berbincang-bincang dengan teman, atau kita asyik buka-buka internet. apakah itu bukan mencuri waktu namanya. Padahal kita tahu perbuatan mencuri itu adalah dosa. berarti halalkah uang yang kita dapat setiap bulannya?

Sangat berbeda dengan oarngtua kita, mereka benar-benar banting tulang memeras keringat. yang petani berangkat pagi pulang sore, begitu juga pedagang. dan jika mereka tidak melakukan dengan sungguh-sungguh maka hasil yang mereka dapat tidak maksimal. berbeda dengan kita yang bekrja sebagai buruh pabrik, dimana tidak jarang pendapat bahwa kerja rajin dan malas gajihnya sama bahkan lebih besar yang malas kerja yang penting bisa menjilat atasan. Halalkah uang seperti itu.

Maka dari itu kenapa kita selalu merasa ketakutan memiliki keturunan, apalagi memiliki banyak keturunan…! Walahu’alam

Jazzakumulloh Khoiron Katsiro..

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: