Ibu Teladan Melahirkan Orang Besar

Oleh Fathuddin Jafar

Siapa yang tidak kenal dengan Mustafa Al-‘Aqqad? Ia adalah seniman dan sutradara asal Suriah. Dialah sutradara Muslim terbesar abad ini. Melalui filmnya yang kesohor dan ditonton puluhan juta dan mungkin ratusan juta manusia “Arrisalah / The Messeage”. Namanya menyaingi dan bahkan melebihi seniman dan sutradara film-film Hollywood sekalipun. Inilah yang beliau kisahkan sebelum meninggal dalam kecelakaan pesawat pribadinya beberapa tahun lalu. Beliau mengisahkan: Ibuku tak selalu mengatakan yang sebenarnya. Ibuku berbohong padaku 8 kali. Kisahnya bermula sejak kelahiranku. Aku adalah anak tunggal yang dilahirkan dalam keluarga yang amat miskin. Saking miskinnya, seringkali keluargaku tidak makan. Bila keluargaku dapat membeli beras sesekali, ibuku selau memberikan jatahnya untukku. Ia selalu bilang padaku, “Makanlah nak… Ibu tidak lapar.” Inilah kebohongan ibuku yang pertama yang aku catat. Saat aku mulai beranjak besar, aku ingat kami jarang sekali makan ikan. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, ibuku selalu pergi ke sungai kecil di belakang rumah kami dan memancing di sana. Tak lain harapannya ialah agar aku bisa makan ikan supaya aku mendapatkan gizi dan bisa tumbuh dengan sehat. Suatu hari, berkat karunia Allah, ibuku mendapat dua ekor ikan. Setelah ia memasaknya, ia menyajikan kedua ikan yang tak terlalu besar itu padaku. Lalu aku sodorkan satu ikan itu pada ibuku dan dia berkata, “Silahkan kamu makan nak, ibu tidak suka ikan.” Inilah kebohongan ibuku yang kedua. Aku sangat shock karena setelah aku makan ikan yang pertama, ibuku mengambil sisa-sisa daging yang menempel ditulang ikan itu dan memakannya. Namun aku diam, tak bisa bicara sepatah katapun. Setalah memasuki usia sekolah, aku ingin sekali bersekolah, namun keluargaku tidak punya uang untuk membayar biaya sekolahku. Lalu ibuku pergi ke pasar menjadi sales keliling salah satu toko pakaian wanita untuk menawarkan berbagai pakaian door to door alias dari rumah ke rumah di kampung kami. Pada suatu malam hujan dan cuaca dingin sekali, ibuku belum juga pulang. Aku mencoba mencarinya ke jalan yang tidak jauh dari kampung kami. Tiba-tiba aku melihatnya sedang mengetuk pintu rumah salah seorang penduduk untuk menawarkan baju-baju yang dibawanya. Aku mamanggil ibuku sambil berkata, “Sudahlah bu… mari kita pulang, sudah terlalu malam dan cuaca dingin sekali, ibu bisa lanjutkan besok lagi.” Lalu ia menjawab dengan senyum, “Wahai anakku, aku belum capek.” Inilah kebohongan ibuku yang ketiga padaku. Pada suatu hari waktu aku ujian di sekolah, ibuku memaksakan diri untuk pergi menemaniku di sekolah selama aku mengikuti ujian. Akupun masuk kelas dan ibuku menunggu di luar. Saat lonceng istirahat berbunyi, aku lihat ibu berdiri di lapangan di mana panas matahari begitu teriknya. Lalu aku menghampirinya dan ibuku langsung memeluk dan mendekapku dengan sangat erat penuh kasih sayang. Ia memberikan kabar gembira padaku, berkat taufik Allah jua ia mendapat satu gelas minuman kesukaanku yang sudah ia beli sebelumnya agar aku bisa meminumnya saat istirahat ujian. Akupun meminumnya dengan begitu semangat karena aku sangat haus waktu itu. Kendati ia mendekapku erat-erat, namun aku merasakan begitu dingin dan nyamannya suasana saat itu. Lalu aku menatap wajah ibuku. Aku melihat dari wajahnya keringat mengucur keluar. Segera aku berikan gelas itu kepadanya sambil berkata, “Minumlah wahai ibu.” Lalu ia menjawab, “Wahai anakku, minumlah semuanya, aku tidak hau.” Inilah kebohongan ibuku yang keempat. Setelah ayahku wafat, ibuku hidup menjanda. Maka semua tanggung jawab rumah tangga menjadi kewajibannya sendiri. Ia berkewajiban memenuhi semua kebutuhan rumah. Dengan demikian, hidup terasa semakin kompleks. Pamanku adalah orang yang sangat baik dan sering mengirimkan makanan pada kami. Ketika ibu-ibu tetangga melihat kondisi kehidupan kami semakin memburuk, mereka menyarankan ibuku untuk menikah lagi agar ada yang menanggung beban kehidupan, apalagi ibuku masih sangat muda. Lalu ibuku menolaknya sambil berkata, “Saya tidak butuh cinta.” Ini adalah kebohongan ibuku yang kelima. Setelah aku selesai kuliah, aku langsung mendapat pekerjaan yang cukup baik dan aku yakin inilah saatnya aku membahagiakan ibuku agar ia istirahat dan biarlah aku yang menanggung semua kewajiban dan tanggung jawab rumah kami. Waktu itu, kesehatannya sudah jauh berkurang sehingga tidak mungkin lagi menjadi penjual keliling seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia malah membuka lapak dengan menggelar sebuah tikar di pasar sambil berjualan sayuran. Ketika aku gagal membujuknya untuk meninggalkan pekerjaan itu, aku menyisihkan sebahagian gajiku untuknya. Namun dia menolaknya sambil berkata, “Wahai anakku, simpanlah uang itu untuk masa depanmu, aku masih ada uang cukup untuk kehidupanku.” Inilah kebohongan ibuku yang keenam. Sambil bekerja, aku meneruskan kuliahku tingkat master (S2). Alhamdulillah akupun berhasil lulus dengan baik. Gajikupun naik bahkan perusahaan Jerman tempat aku bekerja memberikan kesempatan padaku untuk bekerja di kantor cabang utamanya di Jerman. Saat itu aku sangat bahagia sekali. Aku mulai memimpikan permulaan baru dan kehidupan baru. Setelah aku pindah ke Jerman dan menyiapkan segala sesuatu, aku menghubungi ibuku agar ia mau hijrah ke Jerman bersamaku. Namun jawabannya mengecewakanku dan beliau tidak mau tinggal bersamaku di Jerman dengan alasan tidak mau menyulitkanku sambil bekata, “Wahai anakku, aku tidak terbiasa hidup mewah.” Inilah kebohongan ketujuh ibuku. Ibukupun tua, sampai usia renta. Ia mendapat cobaan penyakit kanker dan mengenai matanya. Seharusnya, di sampingnya ada orang yang ia cintai merawatnya. Namun apa hendak di kata, aku dengannya hidup dengan jarak yang dibatasi beberapa negara. Aku tinggalkan semua yang ada di Jerman dan aku pulang menemaninya. Aku temukan ibuku sedang terbaring di atas dipan setelah menjalankan operasi. Saat ia melihatku, ia mencoba tersenyum padaku. Namun, hatiku terkoyak menyaksikan ibuku bukan seperti dulu lagi. Fisiknya sudah kurus kering dan sangat lemah. Ia bukan lagi seperti ibuku yang ku kenal sebelumnya. Airmataku mengalir membasahi pipiku dan aku tidak bisa menahan perasaan sedihku. Namun ia mencoba menenangkan perasaanku sambil berkata, “Jangan menangis anakku, aku tidak merasakan sakit apa-apa.” Sesaat setelah ucapannya itu, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dan akupun menutupkan matanya yang tidak akan pernah terbuka lagi di dunia. Kepada semua saudaraku yang masih diberi nikmat ibu yang masih hidup. Jagalah nikmat itu baik-baik sebelum anda bersedih atas kehilangannya. Kepada saudaraku yang ibu tercintanya sudah tiada, ingat selalu betapa capek dan besarnya pengorbanan yang ia berikan kepada kita. Jangan lupa doakan agar ia/mereka berlimpahkan rahmat dan ampunan Allah di alam barzakh. Aku cinta padamu ibu…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: