Ketika Sang Koruptor Bertobat

Oleh Syaripudin Zuhri

Memang banyak cara untuk menjadi koruptor sebanyak jalan raya di kota besar, mau jalan dari mana saja bisa, ada yang “memainkan” kwintansi, ada yeng menggelembungkan proyek, ada yang mendoblekan kwitansi, ada yang lapor ke atas lain ke bawah lain, ada yang melakukan SPJ Fiktip, ada yang melakukan study banding dan lain sebagainya, dan itu biasanya di lakukan oleh orang-orang yang berada di atas level rata-rata.

Heran juga yakh… ternyata yang korupsi itu kebanyakan orang orang-orang yang sudah menjabat dengan kedudukan dan pangkat yang tinggi serta harta yang sudah banyak dengan gaji yang tidak kecil, tapi masih korupsi juga! Terlalu! Ya itulah manusia yang rakus, bagaikan manusia sejenis tikus ini berapapun harta yang dimilikinya kurang, kurang dan kurang, kalau bisa hutan , gunung, tanah dan lautanpun dia makan! Tak ada puasnya, lebih rakus dari monyet! Monyet aja yang binatang, walaupun dikatakan rakus, ya sekedar apa yang dia bisa makan, tak menimbun harta sampai tujuh turunan.

Bandingkan dengan sang koruptor, gaji sudah di atas rata-rata manusia kebanyakan, bahkan dengan berbagai macam fasilitas negara, eh masih saja kurang, padahal yang dia makan adalah harta rakyat kebanyakan yang dengan sadar membayar pajak bumi dan bangunan atau pajak-pajak lain, eh sang pengemplang pajak dan petugas pajak atau pejabat negara lainnya, enak-enakan mengeragotinya dengan kwitansi-kwitansi bodong, kwintansi-kwintasi yang bisa dikongkolingkong, kwintansi yang dobel antara yang disetor ke kas negara dengan kwintansi yang masuk ke kantong sendiri.

Yang repotnya sering kali yang kena potong sang koruptor ini adalah bawahnnya sendiri, apa yang mestinya diterima sekian oleh bawahan dari pusat, eh yang diterima aslinya oleh bawahan dari atasnya dengan berbagai macam alasan, telah ‘disunat’ dan harus ditandatangani, bila tidak, sang bawahan terkena sangsi administratif dari atasan sang jagal itu. Maka dicarilah alat pembenaran untuk menjegal si bawahan yang kritis ini, maka banyak yang terjadi bawahan yang berada di ‘jalan lurus’, justru tak pernah naik pangkat atau kedudukan, karena sang bawahan lebih loyal pada kebenaran dan keimanan yang dimilikinya daripada loyal pada atasan sang jagal yang rakus!

Begitulah hidup di negara yang entah berantah ini, hidup di negara yang katanya berfalsafah yang mulia dan hidup yang katanya menjujung tinggi keadilan dan demokrasi, akhirnya hidup di negara katanya ini tak pernah jelas, abu-abu, buram bagai masa depan. Untungnya orang-orang yang masih punya iman tidak ikut-ikutan pada atasanya yang menjadi jagal atau koruptor, yang memang pada akhirnya sang atasan yang dulunya terlihat gagah dengan jabatan yang pretisius sekarang sedang meringkuk di penjara! Dan setanpun tertawa! “Aha… ini dia temanku”, kata setan!

Biasanya para koruptor baru pada tobat setelah masuk penjara, barulah kitab suci mereka baca, barulah mereka pada menyembah Allah, barulah mereka mendekatkan diri pada Tuhan, barulah mereka mengenal kain sarung, yang ternyata bisa dipakai sholat! Dulunya mereka hanya mengenal kain sarung buat berkemul dengan gundik-geundiknya! Nah setelah dipenjara, barulah kenal kopyah hitam ciri khasnya Bung Karno mereka mulai pakai, yang selama ini hanya dipakai pada saat pelantikan atau pada saat upacara resmi, 17an misalnya! Oh kopyah untuk sholat toh? Mereka baru ‘ngeh’ setelah di penjara, oh sholat pakai kopyah ya?

Padahal ketika masih di luar penjara, sang koruptor yang belum tertangkap ini, dengan gagahnya berdasi dan bermobil mewah dengan berbagai macam gaya dengan kesombongannya, petantang petenteng, seakan dunia ada digenggamannya dan orang-orang yang menjadi penjilat, membanngga-banggakannya! Dan ketika sang koruptor di penjara, semua orang meninggalkannya, kecuali istri dan anak-anaknya yang telah ikut makan harta hasil korupsinya, mereka sekeluarga itu telah makan kotorannya sendiri dan Tuhan telah mempermalukannnya di dunia, di akherat api neraka sedang menunggunya, kecuali sebelum mati dia bertobat dan mengembalikan uang atau harta benda hasil korupsinya ke negara, bila tidak, ya siap-siap aja, azab kubur akan menimpanya.

Harta yang telah dikorupsinya akan digantungkan ke lehernya yang sebensar gunung, bahkan lebih besar dari itu dan ditarik-ditarik ke sana ke mari di dalam kuburnya, itu belum aja di neraka, baru di alam kubur sampai datang kiamat kubro, kiamat besar nanti. Selama belum tiba datangnya kiamat sang koruptor akan terus menerus mendapat siksa di alam kubur! Di dunia sih tak apa-apa, selama tidak ketangkap dan selama tidak ketahuan, maka sang koruptor masih terus berlenggang kangkung, pergi dari satu negeri ke negeri lain, dia akan terus aja menumpuk-numpuk harta kekayaannya sampai lupa, bahwa maut sedang mengintainya!

Wah kalau mau ditulis lebih panjang lagi, bisa aja, tapi sudah dulu, kan hari libur, jangan-jangan sang koruptornyapun lagi libur, jadi tak sempat membaca. Loh memang ada koruptor yang membaca eramuslim? Kalau ada, ya bagus, masih ada kemauan untuk membaca, sukur-sukur setelah membaca tulisan ini, sang koruptor tobat dan menjadi pengurus masjid! Loh bisa aja, lebih baik bekas koruptor yang tobat dari pada bekas ustadz menjadi koruptor! Jangan kita vonis sang koruptor itu langsung masuk neraka! Belum tentu, kalau koruptornya tobat sebelum kematiannya dan harta kekayaannya di infakan dan tobatnya, taubatan nasuha, tobat yang sungguh-sungguh, dan dia tak mau kembali korupsi sepeserpun, jangan-jangan mantan koruptor ini lebih dulu masuk surga dibanding sang ustadz yang yang menjadi koruptor, tapi ga mungkinlah, masa uztadz jadi koruptor, kalau itu yang terjadi bukan ustadz namanya, tapi si gali yang gila!

Loh kok nambah panjang ya tulisannya? Udah akh, kalau diteruskan nanti malah tak ada yang baca, saking panjangnya, malah jadi keluhan, panjang amat! Oke deh, mari kita tutup dengan doa, semoga kita tetap berada dijalan yang diridhoi-Nya, “ya Allah bahagiakanlah kami di dunia dan bahagiakanlah kami di akherat dan selamatkanlah kami dari api neraka, ya Allah, berilah petunjuk untuk koruptor-koruptor itu, hingga mereka bertobat dan kembali ke jalanMu, jalan yang Engkau ridhoi, bukan jalan yang sesat. Berikanlah kesadaran bagi mereka, bahwa mereka tak akan hidup selamanya dan harta yang begitu banyak hasil dari korupsinya, tak akan dapat menolongnya di hari kiamat nanti !” Amin.

Sebenarnya bukan hanya harta orang yang melakukan korupsi, orang yang hartanya halalpun tak bisa di bawa ke alam kubur dan tak bisa menolongnya di alam kubur, kecuali harta halal yang sudah disedekahkan, diinfakan, dizakatkan, diberikan pada fakir miskin, di buatkan amal jariah dan lain sebagainya.

Dan tulisan ini bukan hanya ditujukan buat sang koruptor (saya berharap sang koruptor membaca tulisan ini) juga buat kita semua, khususnya mengenai tobat, ya mari kita bertobat sebelum ajal menjelang, sebelum ajal berada di tenggorokan, sebelum napas tersengal-sengal menjemput kematian.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: