Tasbih Pak Didi

“Mang Udin, coba tebak dari apa tasbih ini dibuat?” tanya Pak Didi dengan logat Sundanya yang enak didengar.

Aku menerima tasbih yang disodorkannya. Kuamati biji-biji tasbih yang warna putihnya sudah mulai kusam. Aku mencoba mengira-ngira, terbuat dari apa tasbih kesayangan pak Didi ini.

“Aku nggak tahu Pak Didi. Kayu, bukan! Plastik, bukan! Karet, rasanya juga bukan!” Aku menyerah.

Kulihat Pak Didi tersenyum. Pasti dia merasa puas karena aku tak bisa menjawab tebakannya dengan benar. Dengan santai, beliaupun bercerita dari apa dan bagaimana riwayat dibalik pembuatan tasbih ‘aneh’ kebanggaannya itu. Kusebut aneh karena baru pertama kali aku melihat tasbih semacam itu. Bentuknya, warnanya juga bahannya yang tak bisa kutebak.

Dan cerita Pak Didi tentang tasbih kebanggaannya sungguh membuatku takjub. Tasbih ‘unik’ yang dibanggakan Pak Didi ternyata terbuat dari potongan pipa paralon. Butuh beberapa saat untuk aku bisa memahami bahwa biji tasbih itu bahan bakunya adalah pipa paralon. Setelah Pak Didi menjelaskan dengan lebih rinci lagi, barulah aku bisa mengerti bahwa biji tasbih itu memang terbuat dari potongan pipa paralon empat inchi.

“Pertama batang paralon dipotong dengan gergaji besi,” Pak Didi memberi penjelasan. “Kemudian potongan paralon yang menyerupai sebuah gelang dipotong-potong kecil, dibentuk sedemikian rupa sampai berbentuk bundar seperti kancing baju, dilubangi tengahnya menggunakan solder dan terakhir dirangkai dengan benang sol sepatu,” Pak Didi menambahkan.

Aku mencoba membayangkan bagaimana repotnya Pak Didi melakukan semua ini. Bukan hal yang sulit bila pekerjaan ini dilakukan oleh orang yang panca inderanya berfungsi sempurna. Tapi tentu tidak mudah bagi Pak Didi yang kedua indera penglihatannya tak lagi berfungsi. Sebuah kecelakaan kerja telah membuat kedua matanya buta. Inalillahi wa innailiahi roji’uun!

Sempat muncul pertanyaan dalam hatiku, mengapa Pak Didi mau bersusah payah membuat tasbih sendiri, toh harga sebuah tasbih tidak terlalu mahal, sangatlah terjangkau. Apalagi meski tak lagi bekerja, alhamdulillah Allah memberikan keluasan rizki bagi Pak Didi dan keluarganya. Hasil dari menyewakan kontrakan cukup untuk membiayai hidup mereka sehari-hari, termasuk bila Pak Didi ingin membeli sebuah tasbih dengan kualitas bagus sekalipun.

Tapi aku menjadi maklum mengapa Pak Didi memilih membuat tasbihnya sendiri. Bukan, sama sekali bukan karena Pak Didi seorang yang pelit. Aku tak menemukan alasan dan bukti untuk mengatakan itu. Yang kulihat justru semangatnya yang tetap membara meski ia telah kehilangan fungsi kedua matanya. Baginya, tak bisa melihat bukan berarti tak bisa melakukan aktifitas apapun. Meski tidak seperti tasbih pada umumnya – bahkan lebih tepat disebut aneh ketimbang unik—namun inilah bukti nyata dari kerja kerasnya. Luka di jari akibat sayatan pisau dan sundutan solder turut menjadi saksi dari kegigihannya.

Bukan hanya tasbih yang menjadi bukti dari tingginya semangat hidup Pak Didi. Meski kadang harus berjalan sendiri, meraba jalan dengan tongkat kayunya, menghitung langkah dengan rumus ciptaannya, beliau hampir tak pernah meninggalkan sholat Maghrib dan Isya berjamaah di mushola. Bahkan sebelum ada jamaah sholat Shubuh yang datang, beliaulah yang pertama kali melantunkan sholawat, membangunkan orang-orang yang masih terlelap. Kurasa sholat Zhuhur dan Asharpun beliau tak pernah ketinggalan. Mudah-mudahan saja beliau tetap istiqomah hingga akhir hayatnya. Amin.

Bukti lainnya adalah, meski sama sekali tak bisa melihat, semangat Pak Didi untuk menghafal ayat-ayat Al Quran sangatlah tinggi. Surat Yaasiin sudah lama beliau hafal, barangkali sebelum aku mengenalnya. Yang kutahu pasti adalah ketika beliau dengan tekun belajar menghafal surat Al Waaqi’ah yang berjumlah 96 ayat. Usai sholat Maghrib, Pak Didi tidak pulang lagi ke rumah. Ia tetap berada di mushola hingga waktu Isya tiba. Tanpa malu dan tanpa ragu, ia akan meminta tolong kepada siapapun jamaah yang ada untuk membacakan satu ayat. Dengan serius beliau akan mendengarkan, merekam dan membacanya kembali berulang-ulang hingga hafal.

Kini, 96 ayat surat Al Waaqi’ah sudah seluruhnya beliau hafal. Subhanallah! Aku turut bahagia karena pernah beberapa kali menemani beliau menghafal ayat-ayat dalam surat ini. Aku membacanya, Pak Didi menyimak dan mengulangnya berkali-kali hingga hafal. Bahkan, pembicaraan tentang tasbih uniknya malam itu terjadi di sela-sela kegiatan menghafal surat Taubah. Entah mengapa, ayat ketiga belas surat At Taubah ini tidak selancar dua belas ayat sebelumnya. Dan aku tahu kebiasaan beliau, untuk ‘mendinginkan’ ingatannya, beliau beristirahat sebentar, ngobrol ala kadarnya, perbincangan yang ringan namun tetap tak lepas dari hikmah, seperti obrolan tentang tasbihnya malam itu.

“Saya sudah berpesan, kalau saya mati tasbih ini jangan dibuang, tapi diwariskan kepada anak cucu saya,” aku kaget, tiba-tiba Pak Didi bicara soal kematian.

“Jangan ngomongin mati dulu Pak Didi. Syerem Ah!” timpalku spontan, sambil tertawa.

“Lho, mati itu kan pasti, mang Udin! Cuma kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana caranya,” jawabnya sambil tertawa juga. Aku mengiyakan.

Aku tahan untuk tidak bertanya adakah anak cucunya yang akan memperlakukan tasbih unik itu seperti dirinya.

“Serius, saya sudah berpesan kepada istri, meskipun jelek tasbih ini jangan dibuang tapi diteruskan kepada anak cucu saya. Tentunya bukan untuk barang pajangan apalagi dianggap jimat atau barang keramat,” aku merasa tidak enak hati, sepertinya beliau tahu apa yang sedang kubatin tentang tasbihnya yang aneh -unik- itu.

“Saya ingin anak cucu saya tekun beribadah, berzikir menggunakan tasbih ini. Selama mereka menggunakan tasbih ini, saya berharap mereka ingat bahwa dalam kondisi apapun janganlah mudah menyerah pada keadaan. Tetap belajar, berusaha dengan penuh keyakinan meskipun keadaan kita tak sempurna. Semoga mereka juga bisa mengambil pelajaran dari riwayat pembuatan tasbih ini. Meski saya buta, saya tidak ingin menjadikan kebutaan saya untuk pasrah dan tidak melakukan apa-apa,” Pak Didi menjelaskan keinginannya untuk mewariskan tasbih unik buatan tangannya kepada anak cucunya. Subhanallah, aku merinding mendengarnya.

Benar bahwa kondisi fisik yang tidak sempurna bukanlah alasan untuk menyerah. Bukan pula penghalang untuk terus beribadah. Biji tasbih buatan tangan Pak Didi adalah salah satu bukti bahwa beliau tak pernah menyerah dengan keadaan. Disiplin sholat berjamaah di mushola, juga hafalan surat Al Waaqi’ah, Surat Yaasiin dan surat At Taubah yang sedang berusaha beliau hafalkan adalah bukti nyata ketekunannya dalam beribadah.

Cerita pak Didi tentang biji tasbihnya membuka kesadaranku, sekaligus membuatku malu. Aku yang -alhamdulillah- dianugerahi dengan panca indera yang semuanya berfungsi sempurna, tak jarang merasa lemah menghadapi kerasnya kehidupan. Juga, aku yang beberapa kali menemani beliau menghafal ayat-ayat Al Qur’an, belum bisa sepenuhnya mengikuti jejaknya. Bila malam itu kami bisa sama-sama hafal, maka malam berikutnya belumlah tentu aku masih hafal. Tidak seperti beliau yang sekali hafal, maka akan terus diulangnya sampai benar-benar hafal, hingga berhari, berminggu dan berbulan lamanya, bahkan mungkin bertahun dan selamanya. Subhanallah!

Ya Allah, benar apa yang dikatakan pak Didi bahwa kematian adalah hak. Siapapun, termasuk aku dan beliau pasti akan bertemu dengan yang satu ini. Tapi kumohon pada Mu ya Allah, apapun pembicaraan kami malam itu, semoga bukan sebuah pertanda bahwa kami akan segera berpisah. Berilah kami kesempatan lebih luas lagi untuk terus belajar. Ijinkan aku belajar banyak hal dari seorang pak Didi yang meski telah Engkau ambil nikmat penglihatannya, tak menghalangi langkah kakinya mendatangi mushola, tak menghalangi tangannya untuk berkarya dan tak menghalangi kemauannya menghafal ayat-ayat suci Mu ya Allah.

Sungguh bijak nasihat Pak Didi melalui tasbihnya, bahwa apapun kesulitan kita, jangan menyerah dan jangan berputus asa. Dalam kondisi apapun, kita harus selalu mengingat Allah. Berzikir dengan tasbih, itu yang dilakukan pak Didi. Beliau bukan satu-satunya yang melakukan itu, tapi kegigihan yang beliau miliki barangkali tak banyak yang menyamai, termasuk aku.

Oleh Abi Sabila

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: