Cinta Ibu Sepanjang Masa

Kasih ibu, kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Syair lagu diatas saya dapat ketika duduk di bangku taman kanak-kanak. Lagu diatas mengajarkan sekaligus menceritakan kepada anak-anak tentang cinta dan sayang seorang ibu kepada buah hatinya. Cinta yang akan selalu mengiringi setiap langkah anak dalam menggapai cita-citanya.

Seiring bergulirnya waktu saya semakin meyakini bahwa cinta seorang Ibu kepada anaknya adalah sebuah ketulusan. Apapun yang terjadi pada anak-anaknya seorang Ibu akan setia mendampingi mereka. Tidak perduli betapa besar kedurhakaan seorang anak dalam batin seorang Ibu cinta dan sayangnya tidaklah sirna.

Ibu tidak pernah pamrih atas apa yang ia berikan dalam membesarkan anak-anaknya. Ibu juga tidak pernah menyimpan dendam atas sikap-sikap anaknya yang selalu menyayat hatinya. Sebaliknya, untaian doa tidak pernah terputus dia panjatkan semoga Allah membimbing setiap langkah anak-anaknya. Luasnya maaf tidak terbatas ia berikan untuk keselamatan anaknya karena seorang Ibu tahu jika ridha Allah itu tergantung ridhanya kepada buah hatinya.

Ibu tidak pernah malu dengan sosok anaknya. Entah anaknya cacat, kelainan mental, atau ketidaknormalan lainnya. Bahkan Ibu orang pertama yang membesarkan hati anak-anaknya untuk tetap tegap berjalan. Dengan sabar Ibu mengajarkan segala sesuatu hingga anak-anaknya bisa.

Ibu adalah orang yang berada di belakang para tokoh-tokoh itu. Namun, cinta seorang Ibu tidak putus ketika buah hatinya berada dibalik teralis. Kedua tangan Ibu masih terbuka lebar bagi anak-anaknya yang ingin kembali tidak perduli seberapa kelam diri anak-anaknya.

Besarnya cinta seorang Ibu ternyata masih saja tidak cukup bagi anak-anaknya untuk berbakti kepadanya. Dengan otaknya yang cerdas seorang anak masih menghitung-hitung untung rugi berbagi dengan Ibunya seolah tulusnya pengorbanan seorang Ibu terhadapnya hal yang tidak pernah ada. Lemah lembutnya tutur kata seorang Ibu sering ditimpali dengan teriakan-teriakan kasar yang menyayat hati.

Bersyukurlah bagi anak-anak yang memahami bahwa surga itu ada di telapak kaki seorang Ibu. Menjadikannya sebagai ladang amal menuju kampung akhirat.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: